OKI Bakal Rapat Bahas Niat PM Israel Caplok Tepi Barat

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 10:42 WIB
OKI Bakal Rapat Bahas Niat PM Israel Caplok Tepi Barat Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. (REUTERS/Dan Balilty)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berencana menggelar rapat darurat dengan seluruh menteri luar negeri negara anggota pada akhir pekan ini. Rapat itu dilakukan menyusul pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang akan mencaplok seluruh wilayah Tepi Barat jika dia kembali menang dalam pemilihan umum pada 17 September mendatang.

"Atas permintaan Arab Saudi, OKI akan menggelar rapat darurat antara menlu negara anggota pada Minggu, 15 September di Jeddah untuk mendiskusikan eskalasi Israel yang serius," bunyi pernyataan OKI melalui akun Twitternya pada Kamis (12/9).




Indonesia sebagai anggota OKI menuturkan belum mendapat kabar terkait rapat darurat tersebut.

"Kami belum dapat kabar, kita tunggu kabar dari OKI," ucap Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi kepada wartawan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), kemarin.

Dalam sebuah pidato kampanye yang disiarkan secara nasional, Netanyahu mengumumkan niatnya untuk mencaplok Lembah Yordan di Tepi Barat, jika partainya kembali mendominasi pemilu yang digelar pekan depan.

Janji itu diutarakan Netanyahu setelah partainya kalah dalam pemilihan parlemen pada April lalu. Ia bahkan berjanji akan mencaplok seluruh pemukiman yang telah didirikan Israel di Tepi Barat.


Sekitar 65 ribu warga Palestina dan 11 ribu warga Israel tinggal di Lembah Jordan dan utara Laut Mati, Tepi Barat.

Indonesia dan negara Arab mengecam keras pernyataan Netanyahu tersebut. Kemlu RI menyebut janji Netanyahu itu jelas bertentangan dengan hukum internasional dan berbagai resolusi PBB yang mengancam kelangsungan proses perdamaian Palestina-Israel.

Arab Saudi menuturkan rencana Netanyahu itu merupakan eskalasi yang berbahaya. Sementara itu, Yordania menuturkan janji Netanyahu itu dapat memicu konflik kekerasan di Timur Tengah.

[Gambas:Video CNN]

Senada dengan Yordania, Rusia menganggap rencana Netanyahu itu bisa memicu konflik semakin tajam di kawasan Timur Tengah. (rds/ayp)