Pesawat Era Perang Dunia II Jatuh di AS, Tujuh Orang Tewas

CNN Indonesia | Kamis, 03/10/2019 08:50 WIB
Pesawat Era Perang Dunia II Jatuh di AS, Tujuh Orang Tewas Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Yusran Uccang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setidaknya tujuh orang tewas akibat kecelakaan pesawat pengebom era Perang Dunia II milik Amerika Serikat yang jatuh di bandara di Connecticut pada Rabu (2/10).

Sejumlah media lokal melaporkan bahwa pesawat Boeing B-17 tersebut jatuh di Bandara Internasional Bradley sekitar pukul 10.00 waktu setempat, tak lama setelah lepas landas.

Insiden ini bermula ketika armada tersebut lepas landas pukul 09.45. Sekitar sepuluh menit kemudian, pilot menghubungi menara pengawas dan melaporkan ada gangguan.
Berdasarkan bocoran pembicaraan dalam kokpit yang tersebar, pilot tersebut meminta izin untuk melakukan pendaratan darurat karena ada masalah pada mesin pesawat.


Saat insiden terjadi, pesawat tersebut sedang membawa sepuluh penumpang dan tiga kru. Seorang pejabat gawat darurat Connecticut, James Rovella, mengonfirmasi kabar ini, tapi enggan menjabarkan identitas para korban.

"Korban terbakar sangat sulit diidentifikasi. Kami tak mau membuat kesalahan," ujar Rovella sebagaimana dikutip AFP.
Sementara itu, juru bicara Rumah Sakit Hartford mengatakan bahwa mereka sudah menerima enam pasien, tiga di antaranya merupakan perempuan yang kini dalam kondisi kritis.

Hingga kini, belum diketahui penyebab kecelakaan. Namun, pesawat ini memang sudah tua. Armada ini bahkan sempat dipakai Angkatan Udara AS untuk melawan Jerman dan Jepang pada PD II.

Pesawat era perang ini dioperasikan oleh Collings Foundation, kelompok aviasi yang menawarkan pengalaman terbang dengan pesawat kuno.

[Gambas:Video CNN]
Menurut seorang senator dari Connecticut, Richard Blumenthal, pesawat tersebut merupakan satu dari 18 Boeing B-17 yang masih dimiliki AS. Ia menganggap ecelakaan ini dapat berdampak besar pada bisnis yang menawarkan sensasi menaiki B-17 lainnya.

"Jika ada kemungkinan perawatan buruk menjadi penyebab kecelakaan, ini jelas merupakan lampu merah bagi pihak lain yang menawarkan terbang dengan pesawat-pesawat semacam ini," ucap Blumenthal. (has/has)