Chile Masih Rusuh, Presiden Pinera Menolak Mundur

CNN Indonesia | Rabu, 06/11/2019 16:11 WIB
Chile Masih Rusuh, Presiden Pinera Menolak Mundur Presiden Chile, Sebastian Pinera. (AFP Photo/Pedro Lopez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Chile, Sebastian Pinera, menyatakan tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya meski terus ditekan oleh massa pengunjuk rasa. Demonstrasi mendesak pemerataan kesejahteraan dan pemberantasan korupsi yang berakhir rusuh di negara itu sudah berlangsung selama tiga pekan.

"Tidak. Ini adalah masalah yang terakumulasi selama 30 tahun lalu. Saya bertanggung jawab atas sebagian masalah itu, tetapi saya bukan satu-satunya," kata Pinera dalam wawancara dengan BBC, seperti dikutip AFP, Rabu (6/11).


Pinera menyatakan tetap berkeras mempertahankan status darurat nasional di Chile. Namun, dia berjanji bakal menyelidiki dugaan kekerasan yang dilakukan polisi terhadap demonstran dan masyarakat.


"Banyak pengaduan tentang sikap yang berlebihan oleh polisi dan saya menjamin hal itu akan diselidiki. Tidak akan ada impunitas," kata Pinera.

Pinera lantas menerapkan paket kebijakan ekonomi untuk usaha kecil dan menengah yang terdampak gejolak itu. Dia menyatakan ada sekitar 6,800 perusahaan merugi akibat bisnis dan gerai mereka terhambat akibat dijarah dalam kerusuhan, yang akan diberi suntikan modal dan pengurangan pajak.

Chile mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar tiga persen pada September lalu, tetapi mengalami kontraksi sebesar 0,5 persen pada Oktober akibat kerusuhan. Padahal, Chile dianggap sebagai salah satu negara paling sejahtera di kawasan Amerika Selatan.

Pinera menyatakan sudah mengajak tokoh oposisi untuk berunding pekan lalu. Namun, sampai saat ini belum menghasilkan kesepakatan apapun.

[Gambas:Video CNN]

Gejolak sosial dan politik di Chile membuat negara itu batal menggelar konferensi iklim dan ekonomi pada tahun ini. Tim sepakbola Chile juga batal menggelar laga persahabatan dengan kesebelasan Bolivia pada 15 November mendatang di Ibu Kota Santiago.

Situasi itu menambah ketidakpastian apakah Chile bisa menggelar laga final pertandingan Copa Libertadores pada 23 November mendatang.

Demonstran juga kembali terlibat bentrok dengan polisi sejak Senin lalu. Aksi penjarahan dan perusakan juga dilaporkan terjadi di Kota Vina del Mar, Valparaiso dan Concepcion.

Demonstran kini menuntut supaya pemerintah mengubah undang-undang dasar. Menurut mereka, konstitusi yang dipakai saat ini adalah warisan dari pemerintah diktator junta militer yang dipimpin mendiang Jenderal Augusto Pinochet pada 1973 sampai 1990.


Menurut hasil jajak pendapat yang digelar lembaga survei Cadem pada Minggu pekan lalu diperkirakan 87 persen warga Chile mendukung reformasi UUD. Mereka juga menyatakan tingkat popularitas Pinera terjun hingga 13 persen gara-gara demo dan kerusuhan. (ayp)