Pakta Damai Hangus, Yordania Larang Warga Israel Masuk

CNN Indonesia | Senin, 11/11/2019 14:34 WIB
Pakta Damai Hangus, Yordania Larang Warga Israel Masuk Ilustrasi. (AFP PHOTO / THOMAS COEX)
Jakarta, CNN Indonesia -- Yordania menutup perbatasan dan mencegah warga Israel masuk setelah perjanjian damai kedua negara yang disepakati pada 1994 kedaluwarsa pada Minggu (10/11).

Menurut pantauan wartawan AFP di utara Israel, dua gerbang kuning yang menyatu dengan jembatan penghubung Israel dan Yordania telah dikunci dengan rantai. 

Pejabat setempat menuturkan tentara Israel juga telah menutup akses ke gerbang itu sehari sebelumnya sekitar pukul 17.00 waktu setempat.



Gerbang itu selama ini menjadi akses utama bagi petani Israel yang ingin berladang di lahan-lahan Yordania di Baqura.

Selama seperempat abad terakhir, Yordania mengizinkan petani Israel mengakses lahan-lahan di sejumlah wilayahnya di perbatasan termasuk Baqura di utara dan Ghumar di selatan.

Baqura dalam bahasa Ibrani disebut Naharayim atau "lahan perdamaian", sementara Ghumar yang terletak di pedalaman padang pasir Negev dikenal warga Israel sebagai Tzofar.

[Gambas:Video CNN]


Lahan-lahan itu telah dikelola warga Israel secara pribadi selama puluhan tahun. Dalam perjanjian 1994 yang harus diperbarui selama 25 tahun sekali, Israel dan Yordania menyepakati bahwa Baqura dan Ghumar berada di bawah kontrol Amman. 

Namun, pada 2018 lalu, Raja Yordania Abdullah menuturkan ingin memegang lahan-lahan itu secara penuh.

Pada Minggu (10/11), Abdullah juga mendeklarasikan bahwa Yordania mengambil alih "kedaulatan atas setiap jengkal tanah di lahan-lahan itu sepenuhnya."


Ia juga mengumumkan bahwa perjanjian perdamaian yang merujuk pada pengelolaan tanah tersebut antara kedua negara "berakhir". Hal itu disampaikan Raja Abdullah saat berpidato di depan parlemen Yordania.

Merespons hal itu, Kementerian Luar Negeri Israel menyesali keputusan Abdullah untuk mengakhiri perjanjian damai.

Relasi antara Tel Aviv dan Amman merenggang dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan jajak pendapat, warga Yordania menentang keras perjanjian damai dengan Israel. Lebih dari setengah warga Yordania diketahui berasal dari Palestina.


Ketegangan kedua negara semakin jelas ketika Amman menarik duta besarnya di Tel Aviv pada Oktober lalu. Penarikan dubes itu dilakukan sebagai bentuk protes Yordania terhadap penahanan berkepanjangan dua warganya di Israel. (rds/dea)