Dikutip CNN, Senin (11/11), pencarian kapal yang mengangkut 80 awak tersebut awalnya dilakukan penjelajah bawah laut Tim Taylor dan tim Proyek Lost 52 dengan berbekal beberapa dokumen perang militer Jepang yang sudah diterjemahkan.
Akan tetapi, hasil terjemahan dokumen berisi informasi tempat tenggelam menunjukkan kesalahan pada penulisan garis bujur lokasi kapal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 5 Juni lalu, Grayback berhasil ditemukan di sekitar 100 mil dari titik awal dengan bantuan beberapa kapal bawah laut otonom, serta teknologi pencitraan yang canggih.
[Gambas:Video CNN]
Pencarian itu kemudian dikonfirmasi resmi oleh kepala Cabang Arkeologi Bawah Laut milik Komando Warisan dan Sejarah Angkatan Laut, Robert S. Neyland.
Penemuan kapal ini membuat perasaan keluarga para awak campur aduk. Salah satunya keponakan awak Raymond Parks, Gloria Hurney.
Hurney awalnya merasa tidak yakin dengan penyelamatan kapal tersebut. Namun, rasa tidak percaya dan sedih itu kemudian berubah menjadi kelegaan.
"Penemuan kapal tersebut mengakhiri berbagai pertanyaan terkait tenggelamnya kapal Grayback beserta lokasi. Saya percaya itu akan membuat para saudara dari awak kapal merasa lebih baik untuk berbagi cerita mereka," kata dia.
Angkatan Laut menuturkan bahwa setiap penemuan kapal karam adalah kesempatan untuk mengenang jasa para tentara sekaligus turut merasakan apa yang terjadi pada kondisi tersebut, dan lebih dari itu membuat perasaan keluarga dan rekan korban merasa lebih baik. (fls/dea)