Saksi Sidang Pemakzulan Trump Diduga Lakukan Pelecehan Seks

CNN Indonesia | Kamis, 28/11/2019 11:49 WIB
Saksi Sidang Pemakzulan Trump Diduga Lakukan Pelecehan Seks Presiden AS Donald Trump. (SAUL LOEB / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duta Besar Amerika Serikat untuk Uni Eropa Gordon Sondland diduga melakukan pelecehan seksual terhadap tiga perempuan. Tuduhan itu muncul di saat Sondland ditunjuk Presiden Donald Trump untuk menjadi saksinya dalam sidang penyelidikan pemakzulan.

Majalah lokal Portland Monthly melaporkan tiga wanita mengaku pernah mengalami pelecehan oleh Sondland yang merupakan seorang taipan hotel dari Seattle.

Salah satu terduga korban, Jana Solis, memaparkan bahwa dia bertemu dengan Sondland pada 2008 lalu. Saat itu Solis tengah melamar pekerjaan sebagai ahli keamanan di hotel Sondland.



Pada suatu hari, Solis menuturkan ia bertemu dengan Sondland untuk makan siang bersama. Pertemuan itu tak berjalan sesuai rencana.

Solis menuturkan Sondland malah menawarkannya pekerjaan sebagai cewek hotel baru saya atau "my new hotel chick".

Solis mengaku langsung menampar Sondland setelah laki-laki itu menawarkannya pekerjaan tersebut.

Dilansir AFP, Solis mengatakan Sondland kemudian mengundang dia ke rumahnya di Portland untuk mengevaluasi koleksi seni pribadi.

Solis memaparkan Sondland turut melepas pakaiannya saat mereka tengah berada di kolam renang rumah pengusaha tersebut.

Perempuan itu juga menuturkan Sondland pernah menciumnya dengan paksa dalam sebuah rapat.

[Gambas:Video CNN]

Selan Solis, Nicole Vogel juga mengaku pernah menerima pelecehan dari Sondland. Ia dan Sondland bertemu pada 2003 lalu dalam suatu acara makan malam. Keduanya berniat berdiskusi tentang rencana investasi di sebuah majalah.

Sondland kemudian membawa Vogel ke sebuah hotel yang dimilikinya dan mengajaknya masuk untuk melihat sebuah kamar. Sondland disebut meminta Vogel memeluknya saat berada di dalam kamar.

"Dia [Sondland] kemudian menyentuh wajah saya dan langsung mencium saya," kata Vogel.

Vogel menuturkan ia menolak kontak fisik Sondland dan langsung pergi meninggalkan kamar. Tak berapa lama dari kejadian itu, Vogel mengaku menerima surat elektronik dari Sondland berisikan penolakan konglomerat itu untuk mendanai proyeknya.


Vogel merupakan pemilik Portland Monthly. Demi mengurangi konflik kepentingan, majalah itu bekerja sama dengan ProPublica, sebuah kelompok berita nirlaba yang terkenal dengan investigasinya, dalam mengulik isu ini.

Melalui pernyataan, Sondland membantah semua tuduhan pelecehan itu dan menuding Vogel sebagai "jurnalis curang" yang marah karena ia tidak jadi berinvestasi di Portland Monthly.

"Klaim yang tidak benar tentang sentuhan dan ciuman ini dibuat-buat. Saya percaya ini dikoordinasikan untuk tujuan politik," kata Sondland seperti dikutip AFP.

"Mereka sebenarnya tidak memiliki dasar dan saya dengan tegas menyangkal mereka," ujarnya menambahkan.

Pengacara Sondland bahkan menganggap kemunculan artikel itu dimaksudkan untuk merusak kredibilitas sang duta besar dalam menjadi saksi Trump di penyelidikan pemakzulan.

Sondland memang dikenal dekat dengan Trump. Ia menyumbang 1 juta dolar untuk pelantikan sang presiden. Tak lama setelah itu, Sondland ditunjuk Trump untuk menjadi dubes AS untuk Uni Eropa.


Terlepas dari kedekatan dan dukungannya terhadap Trump, Sondland sudah bersaksi di bawah sumpah di depan Kongres terkait penyelidikan pemakzulan sang presiden.

Dalam kesaksiannya, Sondland mengaku mengikuti perintah Trump untuk menuntut Ukraina menyelidiki keluarga Joe Biden terkait dugaan korupsi. Biden merupakan saingan Trump di pemilihan umum 2020 mendatang. (rds/dea)