Seperti dilansir Associated Press, Selasa (10/12), tim penjinak bahan peledak kepolisian Hong Kong menyatakan bom itu sebenarnya sudah siap digunakan. Aparat menyatakan bom rakitan itu terhubung dengan pemicu yang bekerja dengan gelombang radio dan bisa diaktifkan dengan ponsel.
"Kalau bom itu diledakkan, maka akan membuat kerusakan besar dan banyak jatuh korban," kata petugas senior tim penjinak bahan peledak kepolisian Hong Kong, Alick McWhirter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepolisian Hong Kong belum menyatakan apakah temuan bom rakitan itu terkait dengan kelompok radikal yang terlibat dalam demonstrasi selama sejak Juli lalu.
[Gambas:Video CNN]
Pada akhir pekan lalu, sekitar 10 ribu orang turun ke jalan memperingati enam bulan aksi unjuk rasa. Aksi itu mulanya berjalan damai, tetapi malah berujung kerusuhan karena kelompok radikal membakar sejumlah toko.
Gerakan pro demokrasi di Hong Kong saat ini tidak terpusat terhadap tokoh tertentu. Mereka pun terbelah antara kelompok yang moderat dan radikal, meski mempunyai tujuan yang sama.
Gejolak itu dipicu pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang saat ini sudah dicabut oleh pemerintah Hong Kong. Namun, kelompok pro demokrasi masih khawatir dengan masa depan mereka jika rezim yang dipimpin Carrie Lam, yang dianggap dikendalikan oleh China, masih berkuasa.