Dilansir Associated Press, Selasa (10/12), Kem Sokha ditangkap pada September 2017 lalu. Ia disangka hendak melakukan makar dan mengkhianati negara karena memiliki koneksi dengan sebuah organisasi berbasis di Amerika Serikat yang mempromosikan demokrasi.
Karena tidak memiliki pesaing, Hun Sen dengan mudah memenangkan pemilu dan kembali berkuasa hingga 2022. Sampai dibebaskan beberapa waktu lalu, Kem Sokha masih berstatus tersangka dan terancam hukuman maksimal 30 tahun penjara terbukti bersalah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Video CNN]
Negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang telah lama menjadi pendonor utama Kamboja, ikut mengkritik gelaran pemilu tahun lalu yang dianggap "palsu." AS dan Jerman bahkan menerapkan serangkaian sanksi diplomatik terhadap negara di Asia Tenggara itu.
Uni Eropa juga tengah memulai proses menarik status bea preferensial dan bebas kuota impor Kamboja. Tindakan itu terancam merugikan perekonomian Kamboja yang sangat bergantung pada industri dan ekspor tekstil berbiaya rendah. (rds/ayp)