RUU itu akan mempercepat proses pemberian kewarganegaraan bagi imigran ilegal terutama dari kalangan agama minoritas termasuk umat Hindu, Sikh, Budha, Jains, Parsis, dan Kristen, dari Afghanistan, Bangladesh, dan Pakistan.
RUU itu disetujui dengan dukungan 125-105 dalam jajak pendapat di majelis tinggi parlemen. RUU kewarganegaraan ini selanjutnya akan dikirim ke Perdana Menteri Narendra Modi untuk ditandatangani sebelum berlaku efektif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Shah memaparkan kaum minoritas di tiga negara mayorita Muslim seperti Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan selama ini hidup dalam ketakutan.
"Dan RUU ini memungkinkan India meningkatkan martabat mereka dan kesempatan untuk membangun kembali kehidupan mereka. Muslim tidak masuk dalam RUU ini karena mereka tidak menerima persekusi berbasis agama selama ini," papar Shah seperti dikutip CNN.
[Gambas:Video CNN]
Pada 2018 lalu, Shah juga pernah mengibaratkan imigran Muslim dan pencari suaka dari Bangladesh seperti halnya 'rayap' dan berjanji untuk menyingkirkan mereka dari negara dengan mayoritas umat Hindu tersebut.
RUU itu memicu protes dari sejumlah kalangan, termasuk komunitas Muslim di India. Oposisi RUU itu menantang akan menggugat RUU itu ke Mahkamah Konstitusi dan menganggap beleid itu melanggar prinsip kesetaraan dan sekularisme India.
Tak hanya kritik, RUU kontroversial itu bahkan memicu protes yang berlangsung ricuh di sejumlah tempat seperti di Tripura dan Guwahati.
Polisi bahkan terpaksa menembakkan gas air mata kepada ribuan pedemo yang mencoba menerobos barikade aparat.
Sejumlah wilayah di India seperti Tripura bahkan mengerahkan pasukan aparat tambahan dan memblokir akses internet untuk sementara waktu sebagai upaya meredam massa. (rds/evn)