Seperti dikutip dari laman Japan Times, Selasa (17/12), Carnegie menyatakan perangkat pemantau dengan sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dibuat China diterapkan di wilayah Xinjiang. Sistem itu bisa menampilkan profil seseorang hanya dari tangkapan citra kamera yang dihubungkan dengan pusat pengolahan data.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teknologi ini terhubung dengan sejumlah perusahaan China, yakni Huawei, Hikvision, Dahua dan ZTE, yang memasok sistem kecerdasan buatan du 63 negara. Sebanyak 36 negara di antaranya sudah meneken kerja sama dalam program Inisiatif Sabuk dan Jalan China," demikian isi laporan lembaga itu.
[Gambas:Video CNN]
Mereka menyatakan penjualan teknologi pengawasan dengan kecerdasan buatan bukan didominasi China. Mereka menyatakan sejumlah negara lain, bahkan yang menerapkan sistem politik demokrasi, turut menjual perangkat tersebut.
Negara-negara tersebut antara lain Jepang melalui NEC Corporation yang menjual teknologi pengawasan kepada 14 negara. Sedangkan Amerika Serikat melalui IBM melego sistem itu kepada 11 negara.
Sementara itu, Kepala Media dan Diplomasi Publik Kedutaan Besar China di Jakarta, Huang Hui belum memberikan respons saat diminta konfirmasi atas laporan tersebut. (ayp)