China Diduga Minta Dewan HAM PBB Bocorkan Profil Aktivis HAM

CNN Indonesia | Rabu, 18/12/2019 15:33 WIB
China Diduga Minta Dewan HAM PBB Bocorkan Profil Aktivis HAM Ilustrasi gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa. (Istockphoto/Mizoula)
Jakarta, CNN Indonesia -- Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia (OHCHR) dilaporkan dengan sengaja membocorkan nama-nama sejumlah aktivis hak asasi manusia atas permintaan perwakilan China di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sejumlah profil yang dibocorkan itu termasuk pegiat HAM Tibet dan Uighur yang saat ini menjadi warga atau hanya bermukim di Amerika Serikat.

"OHCHR terus menerus memberikan informasi kepada China tentang nama-nama pegiat HAM yang berencana datang ke Jenewa," tulis seorang staf OHCHR, Emma Reilly, melalui surat yang ditujukan kepada Kongres tertanggal 21 Oktober lalu.

Seperti dilansir Fox News, Rabu (18/12), Reilly menyatakan praktik itu sudah terjadi sejak 2013. Namun, pada 14 Desember lalu, Juru Bicara Dewan HAM PBB, Rolando Gomez, membantah tuduhan tersebut.


"OHCHR tidak mempunyai alasan untuk memaparkan nama-nama pegiat HAM yang akan datang ke dewan," kata Gomez.
Menurut Reilly, saat itu dia diperintahkan atasannya untuk memberikan 12 nama aktivis HAM yang berencana hadir dalam sesi dengar pendapat Dewan HAM PBB atas permintaan perwakilan China. Salah satu yang menjadi perhatian adalah nasib mendiang advokat dan aktivis China, Cao Shunli.

Shunli dilaporkan ditangkap di Bandara Beijing pada 2013 ketika hendak menunjuk rapat Dewan HAM PBB di Jenewa. Insiden itu terjadi enam bulan setelah laporan Reilly.

Shunli lantas meninggal di dalam tahanan enam bulan kemudian karena dilarang berobat.

Reilly yang merupakan warga Inggris dan Irlandia menyatakan akibat laporannya itu dia justru dipojokkan. Menurut dia, Turki juga pernah meminta hal yang sama tetapi PBB hanya mau memberikannya kepada China.

"Ketimbang mengambil langkah untuk menghentikan hal itu, PBB hanya fokus membalas saya terkait laporan tersebut. Saya dipermalukan, dikucilkan, tidak diberi tugas dan karir saya dihancurkan," tulis Reilly.

[Gambas:Video CNN]

Pengaruh China di Dewan HAM PBB dilaporkan semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juli lalu, delegasi China dua kali menginterupsi kesaksian penyanyi sekaligus aktivis Hong Kong, Denise Ho. Saat itu Denise meminta kepada PBB supaya mendepak China dari keanggotaan akibat gejolak yang terjadi di Hong Kong.

Pada November 2018, sebanyak delapan lembaga swadaya masyarakat menyampaikan pernyataan bersama soal keprihatinan terhadap Dewan HAM PBB yang mencabut tujuh laporan mereka yang akan membahas catatan HAM China.

Lantas pada April 2017, aparat keamanan di markas PBB di New York mengusir aktivis Uighur, Dolkun Isa, tanpa penjelasan. Setahun kemudian, perwakilan China sekaligus mantan Wakil Sekretaris Jenderal PBB Urusan Ekonomi dan Sosial, Wu Hongbo, mengaku dalam wawancara dengan stasiun televisi setempat, CCTV, bahwa dia yang memerintahkan pengusiran terhadap Isa secara pribadi.

"Sebagai diplomat China, kita harus berhati-hati menyangkut isu tentang kedaulatan negara dan kepentingan nasional," kata Wu saat itu.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia memperkirakan lebih dari satu juta warga Uighur dan sebagian besar minoritas Muslim lainnya ditahan di fasilitas itu, yang menurut laporan digambarkan sebagai kamp-kamp indoktrinasi yang dijalankan seperti penjara dan bertujuan menghancurkan budaya etnis itu. (ayp/ayp)