Tokoh Oposisi Rusia Diculik dan Dibuang ke Arktik

CNN Indonesia | Kamis, 26/12/2019 20:55 WIB
Tokoh Oposisi Rusia Diculik dan Dibuang ke Arktik Ilustrasi unjuk rasa kelompok oposisi Rusia. (AFP PHOTO / VASILY MAXIMOV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang tokoh oposisi dan aktivis antikorupsi Rusia, Ruslan Shaveddinov (23), dilaporkan diculik aparat di apartemennya di Ibu Kota Moskow pada Senin (23/12) lalu. Menurut sejawatnya yang juga pegiat, Alexei Navalny (43), Ruslan dikirim ke pulau terpencil di Laut Arktik dengan alasan harus menjalani wajib militer.

Seperti dilansir AFP, Kamis (26/12), Navalny mengatakan Ruslan sampai saat ini tidak bisa dihubungi. Menurut dia pada Selasa lalu Ruslan dilaporkan berada di pangkalan udara rahasia Rusia di Kepulauan Novaya Zemlya di Laut Arktik.
"Kebebasannya (Ruslan) sudah dicabut secara tidak sah," kata Navalny.

Meski demikian, Angkatan Bersenjata Rusia beralasan Ruslan sudah berkali-kali menghindari wajib militer. Namun, Navalny membantah argumen tersebut dengan menyatakan Ruslan sudah ditolak menjalani wajib militer karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan, tetapi dipaksa dikirim ke pangkalan rahasia tanpa pelatihan dasar.


Kuasa hukum yayasan antikorupsi pimpinan Navalny, Vyacheslav Gimadi, menyatakan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu dan Presiden Vladimir Putin sebagai panglima tertinggi bertanggung jawab atas keselamatan Ruslan.

Juru bicara Navalny, Kira Yarmysh, menyatakan Ruslan selama ini menjadi penghubung dengan para politikus oposisi di Dewan Perrwakilan Rakyat Kota Moskow. Dia menyatakan Ruslan berhasil menghubunginya dari Novaya Zemlya menggunakan ponsel warga setempat.

[Gambas:Video CNN]

Navalny menyatakan Ruslan sampai saat ini dilarang berkomunikasi menggunakan sarana apapun, tidak seperti prajurit lainnya. Dia mengatakan angkatan bersenjata juga menugaskan seseorang untuk selalu membuntuti Ruslan ke manapun selama 24 jam.

"Angkatan bersenjata saja tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dengannya," ujar Navalny.

Menurut juru bicara Kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, pemerintah tidak paham alasan Ruslan menghindari wajib militer. Sebab dalam undang-undang, setiap lelaki Rusia berumur 18 sampai 27 tahun harus menjalani wajib militer selama satu tahun.

Akan tetapi, banyak dari mereka menghindari wajib militer dengan menyuap.
Pemerintah Rusia juga terus menekan Navalny dan kelompok oposisi selama beberapa tahun belakangan. Sosoknya mencuat setelah membantu mengorganisir aksi unjuk rasa pada musim panas lalu menuntut pemilihan umum yang jujur dan adil.

Navalny juga dilaporkan ditangkap pada hari ini. Belum diketahui penyebab dia kembali ditangkap kali ini. (ayp/ayp)