Anggaran operasional PBB ini naik dari periode 2019 senilai US$2,9 juta, dengan peningkatan dikarenakan misi tambahan di pos sekretariat PBB, inflasi, serta penyesuaian nilai tukar, demikian menurut para wakil negara di PBB.
Di dalam rincian anggaran juga terdapat misi pengawasan di Yaman, misi politik di Haiti, investigasi kejahatan dan perang sipil yang berlangsung sejak 2011 di Suriah, serta investigasi pada kekerasan etnis minoritas Rohingya di Myanmar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat bernegosiasi, Rusia mengusulkan beberapa perubahan baik di sesi Sidang Umum maupun sesi Pertanyaan untuk Komite Anggaran.
Namun saat voting berlangsung, baik Rusia, Suriah, Myanmar, dan pendukung mereka yaitu Korea Utara, Iran, Nikaragua, dan Venezuela, kalah suara.
Rusia menyatakan keputusan untuk memasukkan dana investigasi ini membuat mereka akan mengkaji ulang kewajiban pembayaran. Mereka juga memprediksi PBB akan mendapatkan masalah karena negara-negara tidak memenuhi kewajiban pembayaran mereka.
Pemerintah Rusia pada Jumat berpendapat bahwa mekanisme penyelidikan itu tidak legal, sementara pemerintah Suriah menyatakan bahwa penyelidikan itu tidak mendapatkan mandat dari Dewan Keamanan.
Anggaran operasional PBB sendiri terpisah dari anggaran tahunan untuk misi perdamaian senilai US$6 juta yang ditetapkan pada Juni lalu. (vws)