Seperti dilansir Channel NewsAsia, Sabtu (4/1), pemerintah China keberatan dengan langkah Malaysia yang mendaftarkan sengketa wilayah di Laut China Selatan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Desember 2019. Namun, Menteri Luar Negeri Malaysia, Saifuddin Abdullah, menyatakan keberatan China wajar.
"Kami sudah memperkirakan China akan keberatan. Ini normal, tetapi ini adalah klaim kami dan kami akan mempertahankannya," kata Abdullah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China sampai saat ini mengklaim sekitar 80 persen Laut China Selatan, dengan argumen Sembilan Garis Imajiner. Mereka bahkan membangun pulau reklamasi yang digunakan sebagai pangkalan militer dan lokasi wisata di LCS.
[Gambas:Video CNN]
LCS disebut sebagai jalur pelayaran niaga tersibuk ketiga di dunia dengan nilai mencapai triliunan dolar. LCS juga disebut menyimpan cadangan miliaran kubik gas dan minyak bumi.
Akan tetapi, sejumlah proyek pembangunan infrastruktur di Malaysia saat ini disokong dari dana pinjaman China. Saifuddin menyatakan mereka tidak khawatir jika China membalas di kemudian hari.
"Jika kami takut dengan hal itu, maka tidak mungkin kami mengajukan klaim," kata Saifuddin.
Sampai saat ini negara yang bersengketa di Laut China Selatan adalah Republik Rakyat China, Republik China (Taiwan), Brunei Darussalam, Malaysia, Vietnam, Filipina dan Indonesia. (ayp/ayp)