Seperti dilansir Associated Press, Rabu (8/1), Kementerian Luar Negeri Filipina menetapkan status awas terkait situasi keamanan di Irak. Hal itu mengharuskan seluruh warga negara tersebut harus segera meninggalkan wilayah itu dengan mandiri atau dibantu majikan, atau menunggu bantuan angkutan pemerintah.
Lihat juga:AS-Iran Berbalas Rudal, Netizen Sindir Trump |
Diperkirakan saat ini ada sekitar 1,600 warga Filipina yang bekerja di Irak. Beberapa dari mereka ada yang menjadi pegawai di kantor perwakilan lembaga AS di Irak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Filipina menyatakan kapal patroli yang baru selesai dibuat di Prancis dan seharusnya langsung menuju Ibu Kota Manila akan dikerahkan ke Timur Tengah terlebih dulu. Kapal itu bisa menampung 500 orang sekali jalan, dan kemungkinan akan berlabuh di Oman atau Dubai.
"Jika terjadi perang, warga Filipina yang bekerja di negara lain akan dibawa ke pelabuhan yang aman kemudian akan diangkut menggunakan pesawat atau helikopter," demikian pernyataan kapal penjaga pantai Filipina.
[Gambas:Video CNN]
Warga Filipina yang mengadu nasib di Timur Tengah diperkirakan berjumlah ratusan ribu orang. Mereka menjadi negara dengan jumlah pekerja migran terbesar di dunia.
Kebanyakan warga Filipina yang bekerja di negara lain berprofesi sebagai asisten rumah tangga, pekerja bangunan, operator kilang minyak, pelaut atau karyawan kantoran. Jika mereka dipulangkan, maka kemungkinan besar akan berdampak terhadap perekonomian Filipina.
Pertikaian antara AS dan Iran semakin memburuk di awal 2020. Serangan drone AS pada 3 Januari lalu menewaskan seorang jenderal Iran, Qasem Soleimani, dan asistennya.
AS menuduh Soleimani berencana menyerang pasukan dan warga AS di Timur Tengah. Sedangkan Iran menyatakan tindakan AS sebagai aksi teror dan bersumpah akan membalas.
Menurut Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS (Pentagon), Jonathan Hoffman, Iran dilaporkan melepaskan sekitar puluhan rudal balistik ke dua pangkalan pasukan AS dan Koalisi di Ain Assad dan Irbil pada hari ini. (ayp/ayp)