Tsai Ing-wen, Petahana Anti China Kembali Berkuasa di Taiwan

CNN Indonesia | Minggu, 12/01/2020 06:40 WIB
Tsai Ing-wen, Petahana Anti China Kembali Berkuasa di Taiwan Presiden Tsai Ing-wen kembali bersaing sebagai petahana dalam pemilihan presiden Taiwan 2020. (Sam Yeh / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, maju kembali sebagai petahana dalam pemilihan presiden 2020. Dia adalah presiden perempuan pertama di negara itu dan menjadi simbol perlawanan terhadap China.

Seperti dikutip CNNIndonesia.com dari berbagai sumber, Jumat (10/1), Tsai lahir pada 31 Agustus 1956. Dia besar di daerah Zhongshan.


Setelah menimba ilmu di sekolah khusus perempuan, Tsai lantas melanjutkan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Nasional Taiwan. Setelah lulus menjadi advokat, dia meneruskan studi hukum ke Universitas Cornell, Amerika Serikat dan meraih gelar master.


Tsai juga meneruskan studi strata-3 ke Sekolah Ekonomi dan Politik London.

Tsai berasal dari keluarga pengusaha kelas menengah. Ayahnya mempunyai usaha transportasi dan perbaikan kendaraan.

Sang ayah dianggap mewariskan perangai keras, disiplin dan cerdas kepada Tsai. Dia juga dikenal sebagai pejuang hak asasi manusia.

[Gambas:Video CNN]

Sebelum terjun ke politik, Tsai lebih dulu menjadi wirausaha. Dia memiliki jaringan restoran Ing-wen the Hungry, tim sepakbola Angels of Taipei, dan meluncurkan merek minuman keras vodka Pure Wondertsai.

Selain itu, Tsai juga mempunyai bisnis parfum From Ing-wen with Love dan koleksi busana Tsai Ing-wen Seduction.

Keuntungan dari usahanya yang diperkirakan mencapai 245 juta Dollar Taiwan ditanamkan dalam bursa saham, properti dan merek kosmetik CoverGirl.

Tsai juga dikenal menolak klaim yang menyatakan Taiwan adalah bagian dari China.

Karena kecakapan dan keilmuannya, Tsai akhirnya terjun ke dunia politik bergabung dengan Partai Demokratik Progresif (DPP). Dia berhadapan dengan Partai Nasionalis Kuomintang (KNP).


Pada 2016, Tsai bersaing dengan unggulan KNP, Enric Chu. Hasilnya, dia menang mutlak dengan perolehan 60 persen suara.

Sejak masa kepemimpinannya, hubungan Taiwan dengan China tidak pernah rukun dan justru merapat kepada Amerika Serikat. Dia memberi contoh Hong Kong yang saat ini bergolak yang dianggap sebagai reaksi atas pemerintah China yang otoriter, sejak penyerahan kedaulatan dari Inggris pada 1 Julir 1997.

Kini, jika dia kembali menang, maka dikhawatirkan akan menyulitkan upaya Presiden China, Xi Jinping, untuk mewujudkan visi 'Satu China', salah satunya dengan menyatukan Taiwan. (ayp/ayp)