"Kedaulatan langit dan tanah Irak dilanggar setiap hari oleh pasukan pendudukan. Jutaan warga harus bersatu untuk mengecam keberadaan dan pelanggaran AS melalui demonstrasi damai," cuit Al-Sadr melalui akun Twitter, seperti dilansir AFP, Rabu (15/1).
Parlemen Irak melalui pemungutan suara pada 5 Januari lalu sepakat untuk mengusir 5,200 pasukan AS yang ditempatkan di sana. Pasukan itu dikirim sejak 2014 untuk membantu memerangi kelompok Negara Islam (ISIS).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aparat Irak menanggapi aksi itu dengan menerjunkan pasukan dan paramiliter yang menggunakan peluru tajam, yang sampai saat ini sudah menewaskan 460 orang. Para aktivis di seluruh Irak diintimidasi, diculik, bahkan dibunuh.
[Gambas:Video CNN]
Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi sudah menyatakan mengundurkan diri akibat unjuk rasa tersebut.
Akan tetapi, faksi-faksi politik yang pro dan menentang pengaruh Iran sampai saat ini belum memutuskan siapa yang akan menjadi pengganti. Sedangkan para pengunjuk rasa menolak usulan untuk kembali melantik Mahdi sebagai perdana menteri. (ayp/ayp)