Reformasi itu kabarnya dapat memperpanjang cengkeraman kekuasaan Putin setelah dua periode jabatan.
Melalui pernyataan, Medvedev mengindikasikan bahwa seluruh anggota pemerintah mundur untuk memuluskan jalan Putin mereformasi konstitusi.
Lihat juga:Aksi Intel Rusia di Sidang Pemakzulan Trump |
"Presiden Putin menguraikan sejumlah perubahan mendasar pada konstitusi, perubahan signifikan tidak hanya pada sejumlah pasal tapi juga pada keseimbangan kekuasaan dalam pemerintah secara keseluruhan," kata Medvedev dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah Rusia, Rabu (15/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Putin berterima kasih kepada seluruh anggota pemerintah atas kontribusi mereka selama ini. Meski begitu, ia juga mencatat bahwa tak semua pekerjaan pemerintah berhasil.
Putin mengaku akan bertemu dengan masing-masing anggota kabinet dalam waktu dekat. Medvedev, tangan kanan Putin, juga termasuk yang akan ikut pengunduran diri massal dalam pemerintah Rusia ini.
[Gambas:Video CNN]
Putin dikabarkan menunjuk Kepala Layanan Perpajakan Federal Rusia, Mikhail Mishustin, untuk menggantikan Medvedev sebagai perdana menteri.
"Dengan persetujuannya, (Putin) mengajukan pencalonan Mishustin untuk jabatan PM agar dipertimbangkan oleh State Duma (lembaga legislatif Rusia)," bunyi pernyataan Kremlin.
Pengumuman mengejutkan ini datang setelah Putin mengajukan amandemen konstitusi. Dalam amandemen itu, Putin berencana memperkuat kekuasaan perdana menteri dan parlemen dengan mengorbankan kewenangan kepresidenan.
Amandemen itu diumumkan dalam pidato tahunan presiden pada Rabu pekan ini. Putin sepakat bahwa tidak ada yang boleh jadi presiden lebih dari dua periode berturut-turut.
Dengan amandemen ini, kekuasaan tertinggi presiden akan diambil alih oleh parlemen. Spekulasi tentang pergeseran kekuasaan ini memang telah lama muncul di Rusia.
Dikutip dari CNN, sejumlah kritikus Putin berasumsi bahwa perubahan konstitusi ini dilakukan Putin sebagai skenario untuk mempertahankan jabatannya sebagai penguasa Rusia setelah masa jabatan berakhir pada 2024.
Dengan amandemen ini, Putin bisa mengganti status jabatannya dari presiden menjadi perdana menteri dengan kekuasaan yang diperluas.
Perubahan konstitusi juga pernah dilakukan Putin untuk mengamankan jabatannya pada 2008 lalu. Saat itu, ia bertukar tempat dengan perdana menteri untuk menghindari ketentuan konstitusional yang melarang orang yang sama untuk menjalani dua masa jabatan presiden berturut-turut. (rds/dea)