Pernyataan itu disampaikan oleh Direktur Yurisdiksi dan Kerja Sama Kantor Penyelidik ICC, Phakiso Mochochoko, seperti dilansir Associated Press, Rabu (5/2). Dia mengatakan para penyelidik ICC sudah mengunjungi kamp pengungsian Rohingya untuk mengumpulkan bukti-bukti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampai saat ini Myanmar menyangkal seluruh dugaan kejahatan kemanusian terhadap etnis Rohingya. Mochochoko menyatakan penyelidik akan mewawancarai para pengungsi Rohingya dan sejumlah saksi lain di beberapa negara.
Menurut Mochochoko, penyelidik akan mencoba mengidentifikasi pihak perencana, yang membantu, dan melakukan dugaan kejahatan kemanusiaan tersebut.
[Gambas:Video CNN]
"Para penyelidik akan berhati-hati dan berusaha sekuat mungkin mengungkap tentang apa yang sebenarnya terjadi terhadap etnis Rohingya di Myanmar dan membuat mereka kabur ke Bangladesh," kata Mochochoko.
Terkait proses pemulangan etnis Rohingya, Mochochoko menyatakan hal itu tidak akan mempengaruhi proses penyelidikan.
Pada Januari lalu, ICC memerintahkan kepada Myanmar untuk menggunakan segala kekuatan guna mencegah pembantaian terhadap etnis Rohingya.
Sampai saat ini dilaporkan ada lebih dari 700 ribu etnis Rohingya kabur ke Bangladesh. Mereka menghindari aksi kekerasan yang diduga dilakukan oleh pasukan dan kelompok radikal Myanmar di Negara Bagian Rakhine sejak Agustus 2017.
Myanmar mengklaim etnis Rohingya bukan warga negaranya, dan menganggap mereka adalah imigran gelap dari Bangladesh. Padahal mereka sudah hidup lebih dari seratus tahun di Myanmar.