Roket Suriah Hantam RS dan Sekolah di Idlib, 21 Orang Tewas

CNN Indonesia | Kamis, 27/02/2020 02:05 WIB
Roket Suriah Hantam RS dan Sekolah di Idlib, 21 Orang Tewas Puluhan warga sipil di Idlib, Suriah, tewas akibat serangan pasukan Presiden Bashar al-Assad terhadap markas kelompok pemberontak. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setidaknya 21 warga sipil, termasuk sembilan anak-anak dan tiga guru, tewas akibat serangan udara dan darat pasukan Suriah yang menghantam 10 sekolah serta sebuah rumah sakit di Provinsi Idlib, barat laut Suriah, Selasa (25/2). Padahal operasi militer itu seharusnya menargetkan kelompok pemberontak di kawasan tersebut.

Kelompok kemanusiaan Union of Medical Care and Relief Organizations memaparkan sebanyak 80 warga sipil lainnya juga ikut terluka parah dalam serangan itu, termasuk tiga perawat dan seorang dokter Rumah Sakit Pusat Idlib.


"Rumah sakit yang melayani 11.500 pasien setiap bulannya terpaksa ditutup setelah ancaman keamanan akibat serangan-serangan udara tersebut," kata kelompok yang berbasis di Jenewa itu seperti dilansir CNN pada Rabu (26/2).


Sementara itu, pemerintah Suriah mengklaim pasukan mereka berhasil merebut beberapa kota dan desa di selatan Idlib setelah angkatan darat meluncurkan operasi intensif "terhadap teroris" di wilayah itu.

Dengan bantuan Rusia, Suriah meluncurkan operasi militer besar-besaran terhadap basis pemberontak dan oposisi di negara tersebut, khususnya di Aleppo dan Idlib, dalam dua bulan terakhir.

[Gambas:Video CNN]

Serangan-serangan itu telah membuat setidaknya 832 ribu orang di wilayah itu kabur dan mengungsi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan hampir 700 ribu di antara orang-orang itu merupakan anak-anak dan perempuan.

PBB telah mendesak agar gencatan senjata diberlakukan di Idlib demi menyetop konflik bersenjata yang bisa memicu "mimpi buruk kemanusiaan".

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, mengatakan gencatan senjata di Idlib "sama saja menyerah pada teroris."


"Ini bukan masalah tentang hak asasi manusia, ini soal menyerah kepada teroris bahkan hadiah bagi kegiatan radikal mereka," papar Lavrov dalam pidatonya di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa. (rds/ayp)