"Saya berpendapat betul atau tidak, politik dan partai politik perlu dikesampingkan saat ini. Jika didukung, saya akan coba membentuk pemerintahan yang tidak memihak kepada partai tertentu. Hanya kepentingan negara saja yang akan diutamakan," kata Mahathir dalam pidato kenegaraan di Putrajaya, Malaysia, seperti dikutip dari cuitan akun Twitter Bernama, Rabu (26/2).
[Gambas:Twitter]
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Politik, orang politik, dan partai politik terlalu utama politik sehingga lupa negara menghadapi masalah ekonomi dan kesehatan yang mengancam negara," kata Mahathir seperti dikutip kantor berita Bernama.
Dalam pidatonya itu, Mahathir turut meminta maaf kepada semua rakyat Malaysia jika keputusannya mengundurkan diri sebagai PM membuat kekacauan politik di Negeri Jiran dan meresahkan warga.
[Gambas:Twitter]
Ia membantah bahwa alasan dirinya mundur sebagai PM adalah karena "gila kuasa" dan enggan menyerahkan jabatan kepada Presiden Partai Keadilan Rakyat, Anwar Ibrahim, sesuai janji politiknya pada pemilu 2018 lalu.
Pada masa kampanye pemilu 2018, Mahathir dan Anwar memang sepakat membentuk koalisi baru demi melawan koalisi yang berkuasa saat itu, yakni Barisan Nasional, yang dipimpin eks PM Najib Razak.
Mahathir juga berjanji jika koalisinya yang dipimpinnya menang, ia akan membebaskan Anwar yang saat itu masih dipenjara. Mahathir juga berjanji tidak akan menyelesaikan masa pemerintahan dan akan mengalihkan jabatannya sebagai PM tak lama setelah berkuasa.
[Gambas:Video CNN]
Meski begitu, hingga Mahathir mengundurkan diri Senin lalu, proses peralihan jabatan PM kepada Anwar tidak pernah terjadi. (ayp/ayp)