Seperti dilansir Associated Press, Senin (23/3), sebanyak 17 orang terluka dalam gempa bumi tersebut. Salah satunya adalah remaja berusia 15 tahun yang dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Lihat juga:6 Langkah Eropa Hadapi Pandemi Covid-19 |
Menurut Perdana Menteri Kroasia, Andrej Plenkovic, gempa ini menjadi yang terbesar yang terjadi di Zagreb selama 140 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gereja itu direnovasi pada 1880 akibat gempa.
Gempa juga membuat masyarakat di Zagreb panik. Mereka berkumpul di luar ruangan dan pinggir jalan khawatir terjadi gempa susulan dan menghindari bahaya tertimpa reruntuhan bangunan.
[Gambas:Video CNN]
Padahal kota itu sedang ditutup total untuk menghindari penyebaran virus corona.
Menteri Kesehatan Vili Beros meminta penduduk untuk tetap mematuhi anjuran menjaga jarak (social distancing) sejauh dua meter.
"Gempa bumi memang berbahaya, tetapi virus corona lebih berbahaya," kata Beros.
Beros juga langsung lari ke luar rumah dan berkumpul di taman setelah terjadi guncangan gempa. Plenkovic meminta penduduk tetap tenang dan kembali ke kediaman masing-masing.
Kawasan yang paling terdampak adalah pusat kota Zagreb, karena banyak bangunan yang didirikan sejak abad ke-19. Proses penyelamatan korban dan pembersihan puing-puing dilakukan penduduk dibantu tentara Kroasia.
"Kami akan segera membersihkan jalanan secepatnya. Jika tetap berada di luar rumah mohon tetap menjaga jarak," kata Plenkovic.
(CNN Indonesia/Fajrian) |
"Kami menghadapi dua krisis, yang satu tidak bisa diterka dan yang lain tidak terlihat. Kami mempunyai peraturan jika terjadi gempa, tetapi jika pada saat bersamaan terjadi gempa bumi dan pandemi global, maka situasinya semakin rumit," ujar Bozinovic.
Sampai saat ini tercatat ada 235 kasus infeksi virus corona di Kroasia. (ayp/ayp)
(CNN Indonesia/Fajrian)