Seperti dilansir AFP pada Minggu (29/3) dini hari WIB, jumlah kematian global akibat Covid-19 mencapai angka 30.003 jiwa, di mana di Benua Eropa sendiri lebih dari 20.000 orang telah merenggang nyawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah kasus positif terinfeksi virus corona di Italia meroket dan melampaui China. Berdasarkan data Johns Hopkins University Italia memiliki 86.498 kasus, sementara China memiliki 81.946 kasus.
Jumlah kasus itu menjadikan Italia sebagai negara kedua terbanyak dengan kasus positif di dunia. Urutan pertama ditempati Amerika Serikat dengan 104.837 kasus. Dikutip dari CNN, terdapat 10.950 kasus yang dinyatakan sembuh di Italia hingga Sabtu petang WIB.
Kepala Institut Kesehatan Nasional Italia , Silvio Brusaferro, mengatakan negaranya tak bisa lengah menghadapi infeksi Covid-19. Pasalnya, lembaganya memprediksi tren peningkatan infeksi Covid-19 di Italia belum selesai.
"Kita baru akan mencapai puncak pada beberapa hari ke depan," kata Brusaferro seperti dikutip dari AFP, Sabtu (28/3).
Sementara itu Pemerintah Spanyol, pada Sabtu lalu memperbesar lockdown ke seantero negeri termasuk menghentikan semua kegiatan nonesensial.
"Semua pekerja di bidang aktivitas ekonomi nonesensial harus tetap di rumah selama dua pekan," ujar Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez.
"Hal yang paling utama adalah memperlambat jumlah orang yang dibawa ke rumah sakit," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN]
Meskipun demikian, Koordinator Kegawatdaruratan Kementerian Kesehatan Spanyol, Fernando Simon mengatakan sudah terlihat tren pelambatan jumlah pasien posiif baru di negara itu. Namun, jumlah yang memuncak itu telah membuat sistem perawatan intensif di negara itu menjadi tertekan.
"Kami betul-betul perlu mengecilkan dengan sangat tajam [jumlah infeksi]... Sehingga kita tidak perlu mencapai krisis kapasitas [layanan medis] seperti ini," kata Simon.
Lihat juga:Ragam Uji Tes Virus Corona di Dunia |