Saat ini di negara benua Afrika itu sudah ada enam kasus positif, satu di antaranya berujung kematian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami tidak melawan [kebijakan] lockdown, tetapi 21 hari itu terlalu lama. Kami sudah mulai kekurangan bahan baku makanan," kata Sayeed seperti dilansir AFP, Minggu (29/3).
Selain itu, di negara minim curah hujan tersebut, kebutuhan akan air bersih pun menjadi sulit.
"Kami harap stok cukup untuk 21 hari ke depan, tetapi banyak juga dari kami yang hidup dengan penghasilan harian, " kata Sayeed yang harus pasrah bisnisnya juga terimbas lockdown.
[Gambas:Video CNN]
Di satu sisi, Presiden Mnangagwa--yang mengambil alih jabatan dari Robert Mugabe pada 2017 lalu pun harus berhadapan dengan tantangan ekonomi dan hiperinflasi.
Selain itu, sistem pelayanan kesehatan publik pun mulai kekurangan obat-obatan dasar dan beberapa perlengkapan esensial. Para dokter dan suster pun pekan lalu melakukan protes karena kurangnya alat perlindungan diri (APD) untuk merawat pasien positif Covid-19.
Tapi, Sabtu (28/9) lalu Menteri Kesehatan Zimbabwe, Obadiah Moyo, menjamin ketersediaan APD bagi para tenaga medis di negara itu.