Seorang lulusan kedokteran Universitas L'Aquila di pusat Italia, Chiara Bonini, mengaku baru saja menyelesaikan ujian akhirnya. Pemerintah kemudian mendesak para mahasiswa kedokteran untuk membantu menangani wabah corona di bagian utara Italia yang terdampak parah. Bonini pun mengaku siap untuk membantu pemerintah yang kekurangan profesional medis.
"Saya ingin memberikan bantuan kepada kota saya yang hidup di saat dramatis ini, dan memiliki kebutuhan nyata untuk dokter," kata Bonini yang tinggal di Bergamo, kepada CNN, Senin (30/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, dengan melonjaknya jumlah kasus dan angka kematian di Italia karena virus corona, para mahasiswa kedokteran yang baru lulus langsung diterjunkan ke garda terdepan darurat kesehatan.
[Gambas:Video CNN]
Berdasarkan data yang dihimpun Johns Hopkins University, Italia menempati urutan kedua dengan kasus virus corona terbanyak yakni 97.689 kaksus. Sementara, jumlah kematiannya telah tembus 10.000 pada akhir pekan lalu.
Federasi dokter nasional Italia juga melaporkan kematian 50 dokter akibat virus corona, yang membuat tenaga kesehatan di Italia semakin menipis.
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian |
Para lulusan kedokteran pun rela turun tangan membantu pemerintah melawan pandemi corona. Stefania Pini, seorang lulusan kedokteran Universitas Parma bahkan mengaku berkenan menginvestasikan seluruh hidupnya untuk berjuang di bidang kesehatan.
Sebelum membantu menangani wabah corona di Italia, Pini terpaksa menjalani masa residensinya di Swiss. Namun, ia sangat berharap dapat bekerja di negara asalnya.
"Saya menginvestasikan seluruh hidup saya untuk melakukan pekerjaan ini," kata Pini yang saat ini bekerja di rumah sakit di Kota Cremona. "Saya orang Italia dan saya ingin sekali bekerja di Italia," lanjutnya.
"Setahun yang lalu ketika saya lulus, saya membuat janji untuk membuat diri saya berguna dalam menghadapi krisis," kata Zadeh, seperti dikutip CNN, Senin (30/3).
Menurutnya, Italia dan negara barat pada umumnya sudah memiliki sistem perawatan kesehatan yang baik. Hanya saja, ketika virus corona pertama kali muncul di China, Zadeh menyebut mereka kurang mempersiapkan diri dan menganggap wabah tersebut tak akan menjadi pandemi.
Ia berharap krisis kesehatan yang berlangsung saat ini dapat menjadi pelajaran bagi negara-negara di dunia untuk tidak menyepelekan suatu isu kesehatan.
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian