76 Hari Lockdown Wuhan: Warga dan Bisnis Mati karena Corona

CNN Indonesia | Rabu, 08/04/2020 14:30 WIB
76 Hari Lockdown Wuhan: Warga dan Bisnis Mati karena Corona Pemerintah China mengakhiri penguncian total wilayah Wuhan setelah 76 hari perbatasan kota itu ditutup karena meyakini pandemi virus corona mulai reda. (STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wuhan, Kota di Provinsi Hubei, China kembali dibuka hari ini. Tepat Rabu (8/4) dini hari China mencabut status lockdown kota yang menjadi sumber penyebaran virus corona itu.

Pemerintah China mengakhiri penguncian total wilayah setelah 76 hari perbatasan kota itu ditutup karena meyakini pandemi mulai reda.

Relaksasi pembatasan perjalanan di Wuhan menjadi tonggak baru perjuangan China melawan Covid-19. Negara itu melaporkan hampir nol infeksi baru domestik dalam beberapa pekan terakhir.


Mulai hari ini penduduk dan pengunjung yang dinyatakan sehat diizinkan meninggalkan Wuhan. Mereka bisa bepergian dengan kereta api maupun pesawat.


Pejabat kereta api memperkirakan lebih dari 55 ribu penumpang akan berangkat dari Wuhan. Media pemerintah CCTV melaporkan rata-rata penumpang itu bergerak menuju wilayah Delta Sungai Mutiara, pusat manufaktur utama di China.

Nyaris tiga bulan lalu ketika wabah melanda kota itu, ribuan orang meninggal. Total ada 3.333 korban jiwa termasuk petugas kesehatan yang berdarah-darah di garda terdepan menanggulangi virus corona.

Ketika virus itu terus menyebar tak terkendali, pemerintah memutuskan melakukan penguncian total pada 23 Januari. Wuhan seketika berubah menjadi kota mati.

Wuhan merupakan pusat industri yang berdiri di tepi Sungai Yangtze. Sektor manufaktur seluruh dunia terpukul akibat terhentinya pabrik-pabrik di kota itu.
Foto: CNN Indonesia/Fajrian

Industri elektronik, bahan baku farmasi, dan bahan baku tekstil, maupun baja melesu dalam dua bulan terakhir.

Lebih dari dua bulan transportasi umum di Wuhan berhenti total. Hampir semua bisnis terpaksa ditutup. Jutaan penduduk dikurung di rumah yang bahkan tidak diizinkan pergi keluar untuk belanja bahan makanan sekalipun.

Dikutip dari CNN, di Wuhan sendiri terdapat 50 ribu infeksi Covid-19 dari jumlah total 81 ribu kasus di China. Lebih dari 2.500 orang meninggal di Wuhan, atau 77 persen dari semua kematian akibat virus corona di seluruh China.

Sederet upaya yang dilakukan pemerintah China untuk mengatasi pandemi virus corona menunjukkan titik terang pada pertengahan Maret. Untuk pertama kalinya, China melaporkan nol kasus domestik akibat virus corona pada Kamis (19/3).

Lockdown di Provinsi Hubei telah lebih dulu dicabut. Lebih dari 50 juta warga Hubei kembali diperbolehkan bepergian keluar masuk wilayah itu jika dinyatakan sehat. 


Kehidupan di Wuhan juga berangsur normal selama dua pekan terakhir. Mereka yang dinyatakan sehat dan aman untuk bepergian dapat diizinkan kembali bekerja.

Di komunitas perumahan, satu orang per rumah tangga dengan kode QR hijau dapat meninggalkan rumah selama dua jam per hari.

Pada 25 Maret, bus kembali melayani penumpang yang diikuti operasional kereta bawah tanah. Bisnis dan toko secara bertahap dibuka kembali, mobil serta pejalan kaki kembali memenuhi jalan-jalan kota yang pernah sepi itu.
Wuhan resmi cabut lockdown AFP/HECTOR RETAMAL

Pejabat Wuhan Luo Ping mengatakan 10.641 pabrik dan bisnis skala besar di kota itu telah dibuka kembali pada 3 April.

Selain pelonggaran pembatasan perjalanan, ada tanda lain yang menunjukkan Wuhan mulai bangkit dari krisis, yakni dimulainya pemakaman.

Selama berbulan-bulan, penduduk di Wuhan tidak dapat menguburkan jenazah karena pemerintah melarang dan menutup pemakaman pada 25 Januari.

Ribuan orang yang meninggal akhirnya disimpan di rumah duka selama kurun waktu penutupan kota. Keluarga disarankan untuk menunggu arahan pemerintah kapan para mayat bisa dikumpulkan.

Menurut pemberitahuan yang dikeluarkan Komisi Kesehatan Nasional, semua jasad pasien virus corona dibawa langsung dari rumah sakit ke rumah duka untuk dikremasi guna mengekang penyebaran virus. Akhirnya banyak yang tidak bisa melihat jasad orang yang mereka cintai.

Baru pada akhir Maret warga Wuhan mulai dapat mengambil abu kerabat mereka dari rumah duka.

Kendati sudah terlepas dari belenggu lockdown, Pemerintah China masih waspada akan ancaman kembalinya wabah corona di kota tersebut.

Pakar kesehatan China juga mendesak masyarakat untuk terus berlatih hati-hati.
Wuhan resmi cabut lockdown. AFP/HECTOR RETAMAL

Kepala Ahli Epidemiologi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China Zeng Guang, meyakini wabah ini belum berakhir.

Dengan jumlah infeksi global yang terus meningkat, semakin banyak kasus impor dikonfirmasi di China.

Pasien yang terinfeksi kebanyakan adalah kalangan pelajar dan pekerja China yang baru tiba dari luar negeri. Hingga Selasa (7/4), tercatat ada 698 kasus virus corona dari luar negeri di China.

"China tidak mendekati akhir (wabah Covid-19), tetapi telah memasuki tahap baru. Dengan epidemi global yang berkobar, China belum mencapai akhir," kata Zeng kepada Health Times sebagaimana dilansir dari CNN.

Kekhawatiran juga muncul karena banyak warga yang terinfeksi virus corona tanpa gejala.

Di China, hanya pasien yang menunjukkan gejala dan hasil positif dalam tes nukleat saja yang dimasukkan dalam penghitungan resmi.
Foto: CNNIndonesia/Basith Subastian

Pasien tanpa gejala yang telah dites positif dipantau dan ditempatkan di bawah karantina hingga timbul gejala atau berubah negatif pada tes selanjutnya.

Pekan lalu China mulai mengumumkan sejumlah kasus baru Covid-19 tanpa gejala. Sejak itu belasan kasus tanpa gejala ditemukan di Wuhan setiap hari. Sebanyak 673 pasien saat ini sedang dalam pengawasan medis.

"Meskipun untuk saat ini tampaknya infeksi dari kasus tanpa gejala relatif rendah, mereka bisa menularkan dan kita harus waspada," ucap Ahli pernapasan di Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan, Yang Jiong. (ara/dea)

[Gambas:Video CNN]