Linimasa ini, katanya, "sangat masuk akal" mengingat kebutuhan uji coba Fase 2 dan 3 dari tiap vaksin untuk menjamin keamanan dan kemanjurannya. Selain itu, perlu ada waktu bagi peningkatan produksi dan distribusi, serta pemberian vaksin.
Menurut Fisher, "kami saat ini masih dalam target", untuk mendapatkan vaksin pada 2021 dengan fase pertama yang masih berjalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebut uji coba ini akan memungkinkan "pengumpulan data awal" untuk menilai apakah vaksin potensial itu benar-benar berfungsi atau tidak sebelum uji coba yang lebih besar terkait keamanan dan kemanjurannya.
Fisher, yang juga seorang konsultan senior di divisi penyakit menular di Rumah Sakit Universitas Nasional di Singapura, pun menyebut komentar Presiden AS Donald Trump bahwa vaksin Corona akan dikembangkan pada akhir 2020 sebagai hal yang "agak prematur."
Terpisah, Severin Schwan, CEO raksasa farmasi Roche, mengaku ragu dengan target waktu yang diusulkan Trump soal vaksin itu. Dia menyebutnya sebagai "tujuan yang ambisius".
Salah satu obat yang diklaim Jokowi dan Trump bisa melawan Corona, Chloroquine, namun itu tak benyak terbukti. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras.) |
"Tapi tetap saja, biasanya butuh bertahun-tahun untuk mengembangkan obat baru. Sebagian besar ahli sepakat bahwa dibutuhkan setidaknya 12 hingga 18 bulan hingga kita melihat vaksin yang tersedia dalam jumlah yang diperlukan untuk pasien," tutur dia.
Terkait penggunaan obat atau antivirus lainnya dalam pengobatan Corona, Fisher menyebut itu masih jauh dari mujarab. Menurutnya, pertahanan terbaik terhadap Covid-19 adalah vaksin yang akan membuat publik imun.
Diketahui, berdasarkan uji klinis awal oleh Gilead Sciences menunjukkan bahwa antivirus Remdesivir menjanjikan karena dapat mempersingkat waktu pemulihan untuk pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.
Diketahui, sejumlah negara mengembangkan pengobatan Virus Corona-nya masing-masing selama vaksi belum tersedia. Obat yang digunakan di antaranya adalah Remdesivir, Chloroquine, Tamiflu, hingga Avigan.
Dikutip dari AFP, per sabtu (9/5), pandemi Virus Corona telah menewaskan 275.018 orang di seluruh dunia. Sebanyak 154.313 kematian atau 85 persen di antaranya terjadi di Eropa dan Amerika Serikat.
Eropa juga menjadi benua yang paling banyak kasus positif Covid-19, yakni 1.699.566 kasus. Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah kematian terbanyak yakni 77.280 kasus, diikuti oleh Inggris dengan 31.241 kasus, Italia 30.201 kematian, Spanyol 26.478 kasus, dan Prancis 26.230 kematian.
(arh)
Salah satu obat yang diklaim Jokowi dan Trump bisa melawan Corona, Chloroquine, namun itu tak benyak terbukti. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras.)