Kematian George Floyd dan Puncak Amarah Warga Kulit Hitam AS

CNN Indonesia | Sabtu, 30/05/2020 09:34 WIB
A protester carries the carries a U.S. flag upside, a sign of distress, next to a burning building Thursday, May 28, 2020, in Minneapolis. Protests over the death of George Floyd, a black man who died in police custody Monday, broke out in Minneapolis for a third straight night. (AP Photo/Julio Cortez) Amerika Serikat diguncang demonstrasi besar yang berlangsung rusuh di sejumlah kota besar karena warga kulit hitam AS George Floyd oleh aparat polisi AS.(AP/Julio Cortez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat tengah diguncang demonstrasi besar dalam tiga hari terakhir yang berlangsung rusuh di sejumlah kota besar. Demonstrasi itu dipicu oleh kematian seorang warga kulit hitam AS George Floyd di tangan aparat kepolisian AS.

Protes pertama kali pecah di Minneapolis, Minnesota sehari setelah kematian Floyd pada Senin (25/5) yang meninggal saat dalam penahan polisi.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Floyd sempat mendapat perlakuan yang tidak mengenakan dari seorang petugas polisi yang menangkapnya, Derek Chauvin.


Chauvin menangkap Floyd dengan cara yang tidak wajar. Floyd ditangkap setelah kepolisian menerima laporan dari sebuah supermarket yang mengklaim bahwa Floyd menggunakan uang palsu saat membeli barang.

Rekaman video yang tersebar di media sosial memperlihatkan Chauvin memborgol tangan Floyd dan menjatuhkan badannya ke aspal.

Tak hanya itu, Chauvin mengunci badan Floyd dengan mencekik leher pria kulit hitam itu menggunakan lututnya.  Dalam video terdengar Floyd berteriak sulit bernapas dan "jangan bunuh saya". 

"Lututmu di leherku. Saya tidak bisa bernapas. Mama. Mama," kata Floyd meminta ampun dengan napas terengah-engah.

Dilansir Guardian, polisi mengklaim bahwa Floyd sempat memberontak secara fisik ketika memasukannya ke mobil polisi.

Tak lama kemudian Floyd diam dan tubuhnya tidak bergerak. Dia tidak bereaksi ketika petugas memintanya berdiri dan masuk ke dalam mobil. Floyd lalu dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tak tertolong.

Pada Selasa (26/5), Departemen Kepolisian Minneapols mengonfirmasi kematian Floyd. Polisi menyebut pria itu meninggal "tak lama" setelah "insiden medis" ketika dibawa ke rumah sakit.

Video penangkapan Floyd dan kabar kematiannya sontak viral di media sosial hingga memicu amarah publik.

Tak hanya di Minneapolis, protes juga berlangsung di Denver, New York, dan Oakland. Demonstrasi bahkan berlangsung rusuh, di mana sebuah kantor polisi dibakar oleh pendemo di Minneapolis.

Protes yang rusuh membuat kepolisian Minneapolis sampai harus menggunakan gas air mata demi menenangkan pendemo. Sebanyak tujuh pendemo bahkan dilaporkan tertembak dalam unjuk rasa yang berlangsung di Louisville, Kentucky.

Penembakan terjadi saat para pendemo mengepung sebuah mobil polisi. Satu dari tujuh pendemo yang tertembak dikabarkan dalam kondisi kritis.

Sementara itu, polisi mengklaim tidak ada satu pun petugasnya yang melontarkan tembakan senjata.

Sejumlah pendemo warga kulit hitam AS membawa slogan "AM I NEXT?" atau "Apakah saya berikutnya?" yang menggambarkan kekhawatiran atas sikap rasial dan kebrutalan aparat kepolisian AS terhadap warga kulit hitam.

Unjuk rasa yang berlangsung ini bahkan memicu pemerintah kota mendeklarasikan status darurat di Minneapolis, St. Paul, dan sekitarnya.

Kematian Floyd bukan lah satu-satunya pemantik amarah warga AS yang sesungguhnya. Sebab, insiden Floyd terjadi tak lama setelah dua warga kulit hitam AS lainnya tewas.

Ahamud Arbery (25) tewas pada 23 Februari lalu setelah ditembak oleh dua pria kulit putih ketika dirinya tengah lari pagi di lingkungan rumahnya di Brunswick, Georgia. 

Kematian Arbery memicu kecaman publik setelah rekaman CCTV pembunuhannya tersebar di media sosial pada awal Mei.

Beberapa pekan setelah kematian Arbery, perempuan kulit hitam bernama Breonna Taylor tewas akibat tembakan aparat saat merazia tempat tinggalnya pada Maret lalu.

Taylor merupakan seorang teknisi tim medis darurat. Perempuan 26 tahun itu ditembak saat tertidur di kamarnya saat polisi melakukan razia narkotika di lingkungan apartemennya.

Polisi mengaku sebelum masuk apartemen Taylor, para petugas mengetuk pintu apartemen sambil mengumumkan maksud kedatangan mereka. Para petugas lalu memaksa masuk dan tembakan terjadi.

Sementara itu, menurut kesaksian kekasih Taylor, Kenneth Walker, ia dan sang pacar tak mendengar polisi menjelaskan maksud kedatangan mereka. Walker menuturkan dirinya dan sang kekasih ketakutan lantaran polisi langsung merobohkan pintu rumah mereka.

Dalam panggilan darurat 911 tepat setelah penembakan terjadi, Walker mengatakan kepada petugas bahwa seseorang mendobrak pintu rumah dan menembak pacar saya.

Kini, Chauvin telah dipecat dan dalam penahanan kepolisian. Chauvin juga telah didakwa dengan pasal pembunuhan. (rds/age)