Demonstrasi itu dipicu oleh kematian warga kulit hitam AS, George Floyd, yang meninggal setelah kehabisan napas ketika lehernya ditekan oleh lutut seorang polisi saat dalam penangkapan.
Kematian Floyd dianggap sebagai puncak amarah publik AS terkait kebrutalan dan sikap rasial yang sistematis, terutama oleh aparat terhadap warga kulit hitam dan minoritas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sebuah rapat telekonferensi, Trump menganggap para gubernur negara bagian AS lemah dan tak bisa mendominasi situasi dan para pengunjuk rasa.
Melalui rekaman percakapan yang bocor, Trump terdengar meminta para gubernur AS untuk mendominasi keadaan dan juga para pedemo.
[Gambas:Video CNN]
Merespons nasihat sang presiden, Acevedo menilai pernyataan Trump itu hanya memperkeruh keadaan. Ia juga menganggap masukan presiden hanya menempatkan para pedemo, yang mayoritas merupakan warga berusia sekitar 20-30 tahunan, dalam risiko besar.
"Ini bukan soal mendominasi, ini terkait bagaimana caranya kita memenangkan hati dan pikiran mereka. Satu-satunya cara untuk menghadapi kebencian adalah dengan cinta dan engagement, bukan dominasi," kata Acevedo.
"Jika Anda tidak punya sesuatu untuk dikatakan, lebih baik diam. Ini adalah sikap dasar dalam kepemimpinan, dan saat ini Amerika sangat membutuhkan sifat kepemimpinan itu dalam karakter seorang presiden. Kami tidak ingin orang yang tidak peduli mengendalikan situasi saat ini," paparnya menambahkan.
Aksi solidaritas atas kematian Floyd bahkan meluas hingga negara Eropa dan Amerika latin seperti Brasil hingga Selandia Baru.
Dalam sebuah rapat telekonferensi terkait penanganan unjuk rasa, Trump menganggap sebagian besar gubernur negara bagian AS dan aparat lemah dalam menindak demonstrasi yang berlangsung rusuh di beberapa wilayah.
"Jika pemerintah kota atau negara bagian menolak mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi properti dan warganya, saya akan mengerahkan personel militer AS dan dengan cepat menyelesaikan masalah ini," ujar Trump. (rds/evn)