Dalam pernyataan resmi yang dimuat di situs resminya, FDA mengatakan izin darurat dicabut karena kedua obat itu dianggap tidak menunjukkan efektivitas bagi pasien yang dirawat karena terinfeksi virus corona di AS.
Sebaliknya, justru muncul laporan bahwa dalam uji klinis skala massal ada kasus gagal jantung dan dampak kesehatan serius lainnya setelah mengonsumsi hydroxychloroquine dan chloroquine.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara uji coba klinis masih terus berlangsung untuk mengevaluasi potensi keunggulan obat-obatan ini dalam pencegahan Covid-19, kami menyatakan izin pakai daruratnya sudah tidak layak diberikan. Keputusan ini diambil melalui pemantauan ketat oleh para ilmuwan di Pusat Riset dan Evaluasi Obat," kata Patrizia Cavazzoni, pejabat pelaksana direktur pusat evaluasi obat FDA dalam situs resminya.
Kendati demikian, kedua jenis obat ini tetap bisa dibeli di AS. Hydroxychloroquine dan chloroquine sejak lama diresepkan untuk mengobati pasien yang menderita penyakit imunitas seperti malaria dan lupus.
Sementara itu di Indonesia, kedua jenis obat ini juga masuk dalam daftar obat yang dapat diresepkan pada pasien Covid-19.
Dalam temuan yang diumumkan oleh FK Unair Jumat (12/06) kemarin, hydroxychloroquine bahkan diklaim masuk dalam dua dari lima kombinasi obat "paling efektif melawan virus corona".
CNN Indonesia telah menghubungi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang memberikan izin edar dan evaluasi pemanfaatan hydrochloroquine dan chloroquine di Indonesia, namun belum ada tanggapan hingga berita ini dinaikkan. (saf/evn)