Kantor media Komando Operasi Gabungan Irak (JOC) dalam pernyataannya mengatakan tiga proyektil berjenis Katyusha ditembakkan dari daerah al-Makasib di tepi barat daya Baghdad.
Pasukan keamanan melakukan pencarian di daerah itu dan menemukan sejumlah roket yang dipasang menggunakan kotak kayu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan itu meliputi serangkaian insiden termasuk serangan pada 13 Juni yang menghantam pangkalan tentara Irak di utara Baghdad. Lokasi tersebut juga menjadi markas koalisi pimpinan AS.
Sementara pada 8 juni lalu, dua roket juga menghantam kompleks halaman bandara Baghdad. Berselang dua hari berikutnya, sebuah roket yang tidak terarah menghantam kedutaan besar AS di zona hijau keamanan tinggi.
Pihak Washington menyalahkan faksi pro-Iran di Irak, terutama Kataeb Hezbollah bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Sejak akhir 2019 hingga kini, lebih dari 30 serangan roket telah menargetkan kantor perwakilan dan markas militer asing di Irak.
Ketegangan antara AS dan Irak mencapai puncaknya saat Washington melakukan serangan udara nirawak hingga menewaskan jenderal Qaseem Soleimani pada Januari lalu.
Pada akhir Maret, perselisihan mulai mereda dan laju serangan roket melambat secara signifikan, tapi kembali meningkat tajam sejak pekan lalu ketika AS dan Irak bersiap memulai pembicaraan bilateral. Dialog strategis pada 11 Juni itu bertujuan untuk menetapkan kerangka kerja bagi kehadiran pasukan AS di Irak dan untuk meningkatkan hubungi ekonomi serta budaya.
Sebagai bagian dari perundingan, Washington berjanji akan terus mengurangi pasukan dalam negeri yang berjumlah sekitar 5.200 pasukan pada tahun lalu.
Di sisi lain, Irak menjanjikan akan melindungi personil militer yang beroperasi di wilayahnya sebagai bagian dari koalisi pimpinan AS yang tengah berupaya menyudutkan ISIS. (ans/evn)