"Kami diperintahkan untuk menghancurkan dokumen-dokumen rahasia dan kami mematuhi perintah tersebut," ujar seorang sumber keamanan kepada AFP, Selasa (16/6).
Sumber itu mengatakan bahwa keputusan ini diambil untuk menghindari kekacauan yang terjadi ketika Intifada Kedua pada awal 2000-an.
Lihat juga:Balas Roket Hamas, Israel Serang Jalur Gaza |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut sumber lainnya, penghancuran dokumen ini sudah dilakukan sejak sekitar sebulan lalu, ketika Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, memutuskan untuk mengakhiri kerja sama keamanan dengan Israel.
Abbas mengakhiri semua perjanjian tersebut ketika perjanjian damai dengan Israel terus menemui jalan buntu.
Perundingan kian buram setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengajukan rencana perdamaian Israel dan Palestina pada akhir tahun lalu.
Dalam usulan tersebut, Trump mengusulkan pelegalan pencaplokan Israel di daerah pemukiman di Tepi Barat yang selama ini dianggap ilegal oleh masyarakat internasional. (has)