PBB Desak Israel Urungkan Niat Caplok Tepi Barat

CNN Indonesia | Rabu, 24/06/2020 20:53 WIB
Antonio Guterres, former United Nations High Commissioner for Refugees speaks during the Seventieth session of Informal Dialogues with Candidates for the Position of Secretary-General at the UN headquarters in New York, on April 12,2016.
Over the next three days, eight contenders are expected to take the podium before the General Assembly's 193 nations to lay out their vision for the job and answer questions. The hearings are part of a broad push for transparency in the selection of Ban Ki-moon's successor, who will lead an organization of 40,000-plus employees with a budget of $10 billion.
 / AFP PHOTO / KENA BETANCUR Sekjen PBB, Antonio Guterres. Guterres menyatakan jika Israel mencaplok Tepi Barat maka bakal melanggar hukum internasional dan membuat Timur Tengah bergolak. (AFP PHOTO / KENA BETANCUR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Antonio Guterres, berharap Israel mengurungkan niat untuk mencaplok sebagian kawasan Tepi Barat, yang bisa merusak peta damai solusi dua negara untuk mengakhiri konflik dengan Palestina.

Seperti dilansir Associated Press, Rabu (24/6), Guterres meminta Israel mendengar desakan dari sejumlah negara untuk tidak melanjutkan rencana tersebut.


"Pencaplokan tidak hanya melanggar hukum internasional tetapi juga akan membuat kawasan (Timur Tengah) tidak stabil," kata Guterres dalam wawancara di Lahore, Pakistan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berjanji akan mencaplok wilayah Tepi Barat yang sudah berdiri permukiman Yahudi di Yerikho dan Lembah Yordania. Gagasan tersebut sudah diutarakan sejak kampanye pemilu Israel putaran ketiga.

Netanyahu berencana memaparkan rencana pencaplokan Yerikho dan Lembah Yordania pada 1 Juli mendatang.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendukung rencana tersebut. Namun, karena peluang apakah Trump bakal terpilih kembali membuat kelompok garis keras di Israel mendesak Netanyahu melakukan rencana itu saat ini.

Apalagi di tengah situasi pandemi virus corona, Israel meyakini dukungan dari negara-negara yang selama ini membantu Palestina akan berkurang lantaran mereka juga tengah sibuk menghadapi wabah dan menggenjot perekonomian.


Jika terjadi, hal itu dinilai bisa memupuskan upaya pendirian negara Palestina di masa mendatang.

Menurut Guterres, pencaplokan bakal menghilangkan harapan perdamaian dan solusi dua negara, dimana Israel dan Palestina bisa hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati dan menjaga keamanan masing-masing negara.

"Saya berharap bukan hanya suara saya yang didengar, tetapi Israel juga mendengar desakan dari dunia dan pencaplokan itu tidak akan terjadi pada 1 Juli mendatang," ujar Guterres.

Israel merebut wilayah Tepi Barat dalam Perang Enam Hari pada 1967, dan sejak itu telah membangun puluhan permukiman yang menampung lebih dari 400.000 warga Israel dalam beberapa dekade.


Infografis Hasrat Israel Caplok Tepi Barat(CNNIndonesia/Basith Subastian)


Masyarakat Palestina mengincar wilayah itu sebagai jika mereka meraih kemerdekaan di masa depan. Sebagian besar negara menganggap permukiman Israel di Tepi Barat adalah ilegal menurut hukum internasional.

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]