Sempat Hilang, Wali Kota Seoul Diduga Meninggal Bunuh Diri

CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 11:12 WIB
FILE - In this June 5, 2014, file photo, Park Won-soon, then candidate for Seoul city mayor of the main opposition party New Politics Alliance for Democracy celebrates his victory in the Seoul mayoral election at his office in Seoul, South Korea. Police say on Thursday, July 9, 2020, Park, the current mayor of South Korean capital Seoul, has been reported missing and search operations are underway.(AP Photo/Lee Jin-man, File) Wali Kota Seoul, Korsel, Park Won-soon. (AP/Lee Jin-man)
Jakarta, CNN Indonesia --

Wali Kota Seoul, Korea Selatan, Park Won-soon, diduga tewas karena bunuh diri setelah dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap mantan sekretarisnya.

Park ditemukan tewas di dekat Gerbang Sukjeongmun, Gunung Bugaksan, Seoul, sekitar pukul 12.01 pada Jumat (10/7) dini hari atau tujuh jam setelah dilaporkan hilang.

Lebih dari 770 aparat kepolisian, enam drone, dan sembilan anjing pelacak dikerahkan untuk mencari Park.


Penyelidikan kepolisian sejauh ini tidak menunjukkan tanda-tanda kekerasan atau pembunuhan. Dugaan awal kepolisian, Park meninggal dunia akibat bunuh diri.

"Tidak ada keadaan yang mencurigakan di sekitar kematian Park untuk menganggap bahwa dia dibunuh," ujar seorang pejabat polisi kepada Korea Herald.

Namun, aparat masih berupaya menyelidiki penyebab kematian politikus 64 tahun itu. 

Seperti dikutip dari AFP, jika dugaan polisi terkonfirmasi, Park menjadi pejabat tinggi Korsel kedua yang bunuh diri setelah mantan Presiden Roh Moo-hyun yang melompat dari tebing pada 2009 setelah terjerat dugaan korupsi.

Park dilaporkan hilang oleh putrinya pada Kamis (9/7). Hari itu, Park izin tidak bekerja dengan alasan tidak enak badan.

Ia bahkan membatalkan sejumlah pertemuan dengan pejabat Korsel. Park terlihat meninggalkan kantor sekitar pukul 10 pagi dengan mengenakan topi biru, masker putih, jumper, dan tas punggung bertuliskan "I Love Seoul".

Sang putri melapor kepada polisi setelah Park sempat meneleponnya dan meninggalkan pesan-pesan "yang terdengar seperti pesan perpisahan".

Setelah itu, sang putri tak bisa menghubungi ponsel Park.

Kematian Park, politikus partai berkuasa yang digadang-gadang menjadi kandidat kuat calon presiden Korsel, terjadi sehari setelah mantan sekretarisnya mengajukan penuntutan atas klaim pelecehan seksual.

Polisi mengonfirmasi bahwa ada sebuah pengaduan yang diajukan terhadap Park. Namun, mereka enggan memberikan rincian lebih lanjut terkait pengaduan tersebut.

Media lokal Korsel melaporkan eks sekretaris Park mengaku beberapa kali menerima pelecehan fisik sejak 2017. Sekretaris Park mengaku telah mengirimkan bukti berupa pertukaran pesan antara dia dan Park via Telegram kepada polisi.

Park terpilih sebagai Wali Kota Seoul pada 2011 menggantikan pendahulunya yang mengundurkan diri. Mantan advokat HAM itu kembali terpilih memimpin Seoul pada 2014 dan 2018.

Dia mulanya adalah calon independen yang menang melawan kandidat dari Partai Persatuan Masa Depan (UFP) yang berhaluan konservatif. Park kemudian berkoalisi dengan Partai Demokratik yang mempunyai haluan liberal.

Penduduk setempat mulanya meragukan karena Park dinilai tidak mempunyai pengalaman politik. Namun, dia sempat digadang-gadang bakal menjadi pengganti Presiden Korsel, Moon Jae-in.

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu. Misalnya saja, Into The Light (pendampingan.itl@gmail.com) untuk penduduk Jabodetabek atau Inti Mata Jiwa untuk penduduk Yogyakarta dan sekitarnya (intimatajiwa@gmail.com).
(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]