Kasus Corona Menyebar, Vietnam Lockdown Kota Da Nang

CNN Indonesia | Rabu, 29/07/2020 05:45 WIB
Pemerintah Vietnam memutuskan lockdown kota Da Nang, selama dua pekan setelah terjadi penularan virus corona terhadap 15 orang. Ilustrasi warga Vietnam di tengah pandemi Covid-19 (AP/Hau Dinh)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Vietnam memutuskan menutup (lockdown) kota ketiga terbesar di negara itu, Da Nang, selama dua pekan setelah terjadi penularan virus corona (Covid-19) terhadap 15 orang.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (28/7), kasus infeksi Covid-19 di Da Nang dilaporkan terjadi secara lokal. Penyebaran itu terdeteksi setelah selama tiga bulan tidak ada penambahan kasus di Vietnam.

Menurut data, 15 orang yang positif Covid-19 adalah pasien dan petugas kesehatan di rumah sakit Da Nang.


Pemerintah Vietnam menutup sementara seluruh tempat usaha di Da Nang dan menerapkan kebijakan jaga jarak.

Pemerintah Vietnam memutuskan menghentikan layanan transportasi umum dari dan menuju Da Nang. Para wisatawan lokal yang sedang berlibur di kawasan pantai Da Nang juga memutuskan mempersingkat liburan mereka.

Kebijakan lockdown itu sangat berdampak terhadap industri pariwisata setempat, yang mencoba bangkit dari pandemi virus corona yang semakin menurun sejak April lalu.

"Hotel kami sekarang sepi. Namun, kami membantu para tamu untuk meninggalkan kota selagi masih ada kesempatan," kata seorang pegawai hotel di Da Nang.

Akan tetapi, pemerintah setempat memperkirakan ada ribuan turis yang terdampar di Da Nang karena tidak sempat keluar dari kota itu sebelum lockdown diterapkan. Sebab kota itu dilaporkan dipadati sekitar 50 ribu turis lokal.

"Saya justru tidak mau terburu-buru dan malah berdesakan di bandara untuk meninggalkan kota ini. Akhirnya kami terjebak di sini," kata seorang turis lokal, Lien Nguyen, yang berlibur bersama keluarganya.

Vietnam tidak mencatatkan kasus baru infeksi Covid-19 sejak April lalu. Dengan tambahan kasus baru, jumlah pasien Covid-19 di negara itu bertambah menjadi 431 orang tanpa ada satupun yang meninggal.

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]