Penyelidikan Awal Sebut Ledakan Libanon Bencana Kecelakaan

TASS, CNN Indonesia | Rabu, 05/08/2020 11:51 WIB
Dewan Pertahanan Tertinggi Libanon menyatakan ledakan di Ibu Kota Beirut pada Selasa (4/8) petang sebagai bencana kecelakaan (disaster-striken city). Penyelidikan awal menyebut ledakan di Libanon sebagai bencana kecelakaan. (Foto: AFP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dewan Pertahanan Tertinggi Libanon menyatakan ledakan di Ibu Kota Beirut pada Selasa (4/8) petang sebagai disaster-striken city atau bencana kecelakaan.

Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Libanon, Hajriyanto Y Thohari, menurut informasi yang didapat dari otoritas setempat.

"Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon menyatakan ledakan Beirut adalah Disaster-Striken City atau kota yang terdampak oleh bencana dan menyatakan status 'berkabung' selama tiga hari, dan merekomendasikan kepada Kabinet untuk mendeklarasikan State of Emergency selama 14 Minggu," kata Hajriyanto melalui pernyataan pada Rabu (5/8).


Chief of General Security Libanon, Abbas Ibrahim, menyampaikan penelaahan awal bahwa terdapat 2.700 ton amonium nitrat yang meledak di sebuah gudang dekat Pelabuhan Beirut.

Amonium nitrat adalah bahan kimia berdaya ledak tinggi yang sering digunakan untuk pupuk, tetapi juga dipakai sebagai bahan peledak.

Meski begitu, aparat Libanon belum dapat memastikan penyebab ledakan.

[Gambas:Video CNN]

Dilansir kantor berita Rusia, TASS, Dewan Keamanan Tinggi Libanon segera menggelar rapat darurat tak lama setelah ledakan terjadi.

Dewan tersebut segera menetapkan Beirut sebagai kota terdampak bencana kecelakaan pasca-ledakan terjadi.

"Dewan Pertahanan Tertinggi Libanon memutuskan menetapkan Beirut sebagai kota terdampak bencana kecelakaan dan menetapkan status darurat selama 4-18 Agustus," staf pemberitaan Presiden Libanon, Michel Aoun.

Dewan Pertahanan Tertinggi juga memutuskan membentuk komisi khusus untuk menyelidiki bencana ledakan tersebut. Komisi itu diminta menyiapkan laporan terkait penyelidikan dalam lima hari ke depan.

Perdana Menteri Libanon Hassan Diab mendesak komisi investigasi segera mempublikasikan temuan mereka dalam waktu 48 jam ke depan.

(rds/evn)

[Gambas:Video CNN]