Turki Lanjutkan Eksplorasi Laut Mediterania, Yunani Marah

ans, CNN Indonesia | Rabu, 12/08/2020 04:59 WIB
Pemerintah Yunani mengecam langkah Turki yang melanjutkan eksplorasi energi di kawasan timur Laut Mediterania, Senin (10/8). Kapal eksplorasi seismik Turki, Oruc Reis. (AFP/OZAN KOSE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Yunani mengecam langkah Turki yang melanjutkan eksplorasi energi di kawasan timur Laut Mediterania, Senin (10/8).

Dilansir Associated Press, Selasa (11/8), Yunani mengatakan tindakan eksplorasi energi yang dilakukan Turki melampaui landas kontinennya sendiri, dan meningkatkan ketegangan regional atas hak sumber daya alam di lepas pantai. Akibat perseteruan itu, Yunani dan Turki mengirim kapal perang ke daerah tersebut.

Angkatan bersenjata Yunani bersiaga saat Perdana Menteri Kyriakos Mitsotakis bertemu dewan keamanan nasional pemerintah. Kondisi itu terjadi setelah Turki menerbitkan Navtex atau pesan keselamatan maritim internasional dan mengumumkan bahwa kapal penelitiannya, Oruc Reis, dan dua kapal pendamping akan melakukan eksplorasi seismik di suatu daerah di perairan antara Yunani dan Siprus hingga 23 Agustus.


Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki, Fatih Donmez, mengatakan kapal Oruc Reis telah tiba di daerah operasinya di lepas pantai selatan pada Senin pagi waktu setempat. Dia menulis di Twitter bahwa "83 juta orang mendukung Oruc Reis", mengacu pada populasi Turki.

Kementerian Pertahanan Turki mengatakan sebuah kapal angkatan laut sedang mengawal Oruc Reis untuk "melindungi hak-hak kami" dan mereka mengunggah gambar di Twitter yang memperlihatkan kapal itu diapit oleh lima kapal perang.

Pekan lalu, Turki juga mengumumkan akan melakukan latihan menembak pada Senin dan Selasa di daerah terdekat, yakni barat daya pantai Turki yakni antara Turki dan pulau Rhodes, Yunani.

"Yunani tidak akan menerima pemerasan apapun. Kami meminta Turki segera mengakhiri tindakan ilegalnya yang merusak perdamaian dan keamanan di kawasan itu," kata Kementerian Luar Negeri Yunani dalam sebuah pernyataan.

Kemenlu Yunani juga mengatakan tindakan yang dilakukan Turki mengancam perdamaian.

Menteri Luar Negeri Yunani, Giorgos Gerapetritis, mengatakan gerak-gerik kapal Oruc Reis sedang diawasi oleh Angkatan Laut Yunani.

"Kami dalam (posisi) kesiapan politik dan operasional penuh," kata Giorgos di stasiun televisi pemerintah Yunani, ERT.

"Mayoritas armada kini siap berangkat ke manapun dibutuhkan. Kapal kami yang berlayar di daerah penting sudah ada sejak beberapa hari. Jika perlu, akan ada pengembangan armada yang lebih besar," ujar Giorgos saat dimintai keterangan.

Pada Senin, Yunani mengeluarkan pesan keamanan maritim yang menyatakan bahwa Navtex Turki telah diterbitkan oleh "stasiun tidak resmi", merujuk pada "aktivitas ilegal di daerah yang tumpang tindih dengan landas kontinen Yunani".

Turki lalu membalas dengan pesan maritim lain, pihaknya mengatakan survei seismik sedang dilakukan di landasan kontinen Turki.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, memperingatkan bahwa negaranya tidak akan membatasi upaya eksplorasi lepas pantai.

"Kami selalu ada dan siap untuk menyelesaikan perselisihan melalui dialog dan secara adil. Kami akan terus menjalankan rencana kami di (timur Laut Mediterania) dan di bidang diplomasi sampai akal sehat berlaku dalam hal ini," ujarnya.

Inti dari perselisihan ini adalah apakah pulau-pulau di kawasan itu harus dimasukkan dalam perhitungan landas kontinen dan zona maritim suatu negara yang menjadi kepentingan ekonomi.

Ketegangan antar kedua negara meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena hak pengeboran dan batas laut. Akhir bulan lalu, Turki mengatakan akan menghentikan operasi penjelajahannya di timur Laut Mediterania, sebuah langkah yang dinilai telah meredakan situasi.

Akan tetapi, Ankara marah dengan kesepakatan yang ditandatangani oleh Yunani dan Mesir pada Kamis pekan lalu yang menggambarkan batas-batas laut dan zona ekonomi eksklusif mereka untuk hak pengeboran.

[Gambas:Video CNN]

Meski sama-sama menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara sejak 1952, hubungan Yunani dan Turki penuh dinamika. Kedua negara pernah terlibat perang dalam memperebutkan pulau Siprus. Alhasil, pulau kini dibagi dua, sebagian dikuasai Turki sedangkan sisanya dikuasai pemerintah Siprus yang didukung Yunani.

Yunani merdeka dari kekuasaan Kesultanan Ottoman atau Utsmani Turki pada 1830. Mereka juga terlibat perang pada 1897 serta 1919 sampai 1922, Perang Balkan pada 1912 sampai 1913, Perang Dunia I pada 1914 sampai 1918.

Perseteruan terbaru terjadi setelah Presiden Erdogan menetapkan Hagia Sophia menjadi masjid. Pemerintah dan penduduk Yunani yang menganut Kristen Ortodoks menganggap Hagia Sophia sebagai bangunan suci peninggalan Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium).

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]