60 Negara Kaya-WHO Fasilitasi Vaksin Corona

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2020 08:20 WIB
Lebih dari 60 negara kaya mendukung WHO memfasilitasi vaksin virus corona kepada negara-negara miskin. AS dan China tidak ikut serta. Ilustrasi pengembangan vaksin virus corona. (Foto: iStockphoto/FilippoBacci)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lebih dari 60 negara kaya berkoordinasi untuk mendukung Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memfasilitasi vaksin virus corona kepada negara-negara miskin. Namun dari 60 negara tersebut tidak ada China dan Amerika Serikat.

WHO bersama aliansi vaksin global Gavi dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI) membuat mekanisme yang bertujuan untuk memastikan distribusi vaksin secara adil di masa depan.

Mekanisme yang dikenal dengan Covax, berupaya mengumpulkan dana untuk 92 negara miskin yang sebelumnya telah mendaftar.


"Di antara mereka (daftar negara) yang telah mendaftar termasuk Komisi Eropa atas nama 27 negara anggota Uni Eropa ditambah Norwegia dan Islandia," tulis pernyataan tersebut.

Sekitar 64 negara dan 38 lainnya diperkirakan akan bergabung dalam program penyediaan vaksin bagi negara-negara miskin.

"Tujuan fasilitas Covax adalah untuk mencoba bekerja dengan setiap negara di dunia. Saya mengatakan bahwa kami telah melakukan percakapan dan akan terus melakukannya dengan semua negara," kata Ketuga Gavi Seth Berkley dalam konferensi pers virtual.

Berkley mengatakan pihaknya juga sedang menjalin dialog dengan negara-negara produsen vaksin untuk memastikan bahwa produk mereka tersedia untuk orang lain di dunia. Covax menargetkan 2 miliar dosis vaksin yang aman dan efektif di akhir 2021.

Bukan program amal

Sementara itu AS dan China tidak termasuk dalam daftar negara yang mendukung fasilitasi pengadaan vaksin corona. Pemerintahan Donald Trump sejauh ini kerap mengkritik penanganan pandemi WHO dan justru menarik diri dari organisasi kesehatan dunia tersebut.


WHO mengatakan misi kali ini menghadapi tantangan karena kekurangan dana. Sejauh ini baru mengantongi US$3 miliar dari target sebesar US$38 miliar.

Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyampaikan optimismenya karena hampir dua per tiga dari populasi global sepakat untuk berpartisipasi dalam mekanisme pemerataan vaksinasi corona.

"Ini bukan amal, ini demi kepentingan terbaik semua negara. Nasionalisme vaksin hanya akan melanggengkan penyakit dan memperpanjang pemulihan global," ucapnya.

(evn/evn)

[Gambas:Video CNN]