3.500 Warga Palestina Tewas Selama Netanyahu Memimpin Israel

Middle East Monitor, CNN Indonesia | Rabu, 23/09/2020 04:49 WIB
Hampir 3.500 warga Palestina meninggal dalam serangan militer Israel selama kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ilustrasi korban meninggal akibat serangan Israel di Jalur Gaza. Hampir 3.500 warga Palestina meninggal dalam serangan militer Israel selama kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. (AP Photo/Khalil Hamra)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hampir 3.500 warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, meninggal dalam serangan militer Israel selama kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Menurut laporan kantor berita Turki, Anadolu Agency, yang dikutip Middle East Monitor, Selasa (22/9), Netanyahu digambarkan sebagai salah satu arsitek utama dibalik penindasan dan pelanggaran Israel terhadap Palestina.

Dia menjabat sebagai perdana menteri selama dua insiden serangan berdarah di Jalur Gaza di bawah blokade tentara Israel.


Menurut data kelompok pemantau hak asasi manusia Israel, B'Tselem, hampir 3.500 warga Palestina menjadi tewas dalam serangan pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza sejak 2009.

Di antara warga yang kehilangan nyawa, 799 orang merupakan anak-anak dan 342 wanita.

Dua operasi skala besar Netanyahu meliputi serangan "Operation Pillar of Cloud" pada 2012 dan serangan "Operation Protective Edge" pada 2014 ke Jalur Gaza.

Menurut data B'Tselem, 167 warga Palestina tewas dalam serangan Israel pada 2012 di Gaza.

2014 menjadi salah satu tahun paling berdarah dalam sejarah Palestina akibat serangan yang dilancarkan Israel di Gaza pada 8 Juli di bawah Netanyahu.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tentara Israel menyerang Gaza dengan 6.000 serangan udara, mengerahkan hampir 50 tank, dan peluru artileri selama 50 hari.

Dalam serangan Israel, 2.251 warga Palestina termasuk 551 anak-anak dan 299 wanita menjadi martir. Sementara lebih dari 11 ribu orang terluka dan lebih dari 1.500 anak-anak menjadi yatim piatu.

Otoritas Palestina mencatat bahwa 28.366 rumah di kota telah rusak dan hancur, terutama oleh serangan udara Israel.

Sekitar 65 ribu warga Palestina kehilangan tempat tinggal di Gaza karena infrastruktur yang rusak parah akibat serangan tersebut.

Kemudian pembantaian terbaru di Gaza terjadi pada 2018 oleh pasukan Israel.

Selama demonstrasi damai bertajuk "Great March of Return" yang dilakukan di perbatasan Gaza pada 30 Maret 2018 dan berlangsung selama berbulan-bulan, tentara Israel bahkan tidak menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan yang berlebihan, termasuk peluru tajam, terhadap warga Palestina.

Pemerintahan Netanyahu tidak dapat mentolerir, bahkan meskipun itu berupa aksi damai yang diadakan di perbatasan. Aksi itu menuntut hak untuk mengembalikan pengungsi Palestina yang diusir paksa dari tanah mereka setelah pencabutan blokade darat, udara, dan laut di Jalur Gaza sejak 2006.

Selama aksi protes berlangsung, tentara Israel membantai warga Palestina di depan mata dunia yang disiarkan langsung oleh saluran televisi lokal.

Menurut data Al Mezan, sebuah organisasi hak asasi manusia di Gaza, 215 warga Palestina dibunuh oleh tentara Israel dan ribuan lainnya terluka dalam demonstrasi tersebut. Korban terdiri dari 47 anak-anak, dua wanita, empat petugas kesehatan, dua jurnalis, dan sembilan orang cacat.

Selain itu, penggusuran rumah warga Palestina di Yerusalem timur juga meningkat di era Netanyahu.

Pemerintahan Israel tidak mengizinkan warga Palestina membangun rumah dan terus melakukan penggusuran dengan klaim bahwa mereka membangun rumah tanpa izin.

Menurut B'Tselem, sementara Israel menggusur 30 rumah warga Palestina, 59 keluarga lainnya harus menghancurkan rumah mereka sendiri karena keputusan Israel.

Dikarenakan pemerintahan Israel tidak menanggung biaya penggusuran dari pemilik rumah, warga Palestina sendirilah yang harus menghancurkan rumah mereka.

Akibat penggusuran ini, 278 orang kehilangan tempat tinggal, termasuk 141 anak-anak. Menurut laporan tersebut, 23 rumah hancur di Yerusalem timur pada 2010.

(ans/ayp)

[Gambas:Video CNN]