Dukung Demo Pro-Demokrasi, Ratu Kecantikan Thailand Dicemooh

AsiaOne, CNN Indonesia | Kamis, 24/09/2020 01:57 WIB
Ratu Kecantikan Thailand, Pacharaporn Ilustrasi. Ratu Kecantikan Thailand, Pacharaporn
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang Ratu Kecantikan Thailand, Pacharaporn "Nam" Chantarapadit, dirundung di media sosial dengan cemoohan berbau rasialisme, setelah dia menyatakan dukungan terhadap aksi demonstrasi gerakan pro-demokrasi.

Pacharaporn dinobatkan sebagai pemenang ajang kecantikan Miss Thailand pada Minggu (20/9) malam pekan lalu, dalam acara yang disiarkan langsung di stasiun televisi nasional.

Di sesi tanya jawab, Pacharaporn ditanya apa yang akan dia katakan kepada masing-masing pihak untuk mencegah kekerasan antara pengunjuk rasa dan pemerintah.


Pacharaporn pun menjawab, "Dengan hati, saya memilih pengunjuk rasa," seperti dikutip Asia One, Rabu (23/9).

Rakyat, kata Pacharaporn, memiliki hak untuk mengungkapkan pandangan mereka tentang apa yang terbaik untuk negara.

Berbicara dalam bahasa Inggris, dia mengatakan, "Jika Anda menyebut negara ini Thailand, kami membutuhkan demokrasi yang nyata. Dan terlebih lagi, kami membutuhkan Anda untuk keluar dari negara ini."

Pendukung pemerintah geram dengan pernyataan Pacharaporn. Banyak di antara mereka yang menyerang Pacharaporn dengan hinaan "negro" dan "hitam pekat", merujuk pada warna kulitnya.

Hinaan dengan menyinggung warna kulit seperti itu menyebar mencerminkan perbedaan etnis antara penduduk Thailand yang tinggal di kawasan timur laut yang biasanya berkulit lebih gelap, dan penduduk yang berkulit lebih terang yang berada di kawasan Tengah dan wilayah lain.

Sementara itu, pendukung Pacharaporn dan gerakan pro-demokrasi melakukan membela sang ratu kecantikan di dunia maya. Mereka balik mengecam para penyerang.

Mereka mengatakan penyerangan yang dilakukan pendukung pemerintah dengan menyinggung penampilan seseorang adalah tindakan primiftif dan bodoh.

Selain itu, warganet yang pro-demokrasi saat ini menyerukan boikot terhadap bintang dan idola Thailand yang mendukung pemerintah atau enggan menunjukkan dukungan kepada para pengunjuk rasa.

Berdasarkan pengamatan Asia One, banyak warganet yang berceloteh bahwa mereka telah berhenti memuja idola mereka karena memilih diam atas penindasan terhadap kelompok pro demokrasi Thailand.

Yang juga menarik kemarahan netizen pro-demokrasi adalah Vorasit Issara, pemilik resor Sri Panwa di Phuket.

Kalimat "Ban Sri Panwa" menjadi trending setelah Vorasit mempublikasikan di Instagram bahwa pemimpin gerakan pro-demokrasi, Panusaya Sithijirawattanakul, harus dipenjara karena aktivismenya.

Para demonstran mendesak Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha mengundurkan diri dan menuntut reformasi di tubuh kerajaan.

Panusaya menjabarkan bahwa demo tersebut rencananya bukan untuk menghancurkan kerajaan, tetapi untuk memodernisasi, menyesuaikannya dengan kondisi masyarakat Thailand saat ini.

(ndn/ayp)

[Gambas:Video CNN]