Fakta-fakta di Balik Demo Besar yang Guncang Thailand

CNN Indonesia | Rabu, 21/10/2020 18:01 WIB
Demonstrasi di Thailand masih terus bergejolak hingga hari ini. Banyak orang menyebut cara yang dilakukan pengunjuk rasa Thailand mirip Hong Kong. Demo Thailand. (AP/Sakchai Lalit)
Jakarta, CNN Indonesia --

Demonstrasi di Thailand masih terus bergejolak hingga hari ini, Rabu (21/10). Paling anyar kepolisian menangkap 20 pengunjuk rasa. Namun 19 di antara mereka telah dilepaskan.

Beberapa insiden terjadi sejak demonstrasi yang mulai panas sejak Februari tahun ini. 

Sebagian pihak menyebut cara yang dilakukan pengunjuk rasa Thailand mirip demonstran di Hong Kong tahun lalu.


Hingga ada momen di mana pada bulan lalu pengunjuk rasa membuat sebuah plakat yang berpesan "negara milik rakyat" dan ditanamkan di sekitaran Bangkok.

Tuntutan

Pengunjuk rasa melakukan aksi menentang pemerintah Perdana Menteri Prayut Chan-O-Cha. Prayut adalah mantan Panglima Militer Thailand.

Pada 2014, ia memimpin sebuah gerakan kudeta dan setelah itu berhasil mempertahankan kerajaan di bawah kekuasaan militer selama lima tahun terhitung sejak 2015 hingga saat ini.

Setidaknya ada 10 tuntutan yang diajukan pengunjuk rasa, termasuk menghapuskan undang-undang pencemaran nama baik yang melindungi keluarga kerajaan yang kuat dari kritik.

Undang-undang tersebut adalah salah satu yang paling keras di dunia. Pelanggarnya bisa mendapat hukuman hingga 15 tahun kurungan per dakwaan.

Panas Sejak Februari

Ketidakpuasan masyarakat Thailand atas pemerintahnya disebut sudah membara sejak Februari lalu. Penguncian pandemi, yang membuat ekonomi Thailand terjun bebas, mengungkap jurang antara masyarakat ekonomi kelas atas dengan bawah kian menganga.

Pada bulan Juni, aktivis terkemuka Wanchalearm Satsaksit, yang telah hidup dalam pengasingan diri di negara tetangga Kamboja, menghilang.

Kabar hilangya Satsaksit memicu gerakan virtual di Twitter. Aktivis lainnya menggunakan media sosial tersebut untuk menuntut informasi terkait kejelasan hilangnya Satsakit.

Kampanye secara virtual itu berubah menjadi mulut ke mulut pada pertengahan bulan Juli. Sejak itu gelombang protes pun dimulai.

Sekitar 30.000 orang diprediksi mengikuti gelombang protes yang pertama kali digelar tahun ini. Beberapa pengunjuk rasa mengacungkan hormat dengan tiga jari. 

Hormat itu adalah simbol populer yang berasal dari buku dan film populer Hunger Games.  

Mirip Hong Kong

Tahun lalu, ribuan warga Hong Kong menggelar protes besar-besaran. Mereka menuntut penguasa terkait undang-undang ekstradisi.

Hal serupa terjadi di Thailand kali ini. Para pengunjuk rasa meminta pemerintah untuk menghapuskan undang-undang pencemaran nama baik anggota keluarga kerajaan. 

Demonstran Hong Kong dan Thailand pun sama-sama menyerang penguasa.
Bagi demonstran Hong Kong, lawan mereka adalah Partai Komunis China yang meningkatkan kembali kendali atas kota semi otonom tersebut. Sedangkan di Thailand lawannya adalah kerajaan, yang didukung oleh militer kuat.

Demo di kedua negara ini juga dipimpin oleh para pemuda. Demo besar di Hong Kong mewakili sebagian besar pengacara, sopir bus, pegawai negeri, hingga guru.

Kendati begitu, aktivis garis depan di demo tersebut adalah orang-orang yang masih berusia belia. Di Thailand, para pemimpin demo kebanyakan masih berusia 20 tahunan.

Dekrit Darurat

Gelombang protes Thailand yang menjalar hingga di seluruh negeri membuat pemerintah segera bertindak. Perdana Menteri Prayut menandatangani sebuah dekrit darurat.

Dekrit itu melarang orang untuk berkerumun dengan dalih adanya pandemi corona. Di dalam dekrit, pemerintah menuduh banyak orang telah menghasut masyarakat untuk menyebabkan kekacauan di Bangkok.

"Ada perilaku yang mempengaruhi, dan ada alasan untuk percaya bahwa ada perilaku kekerasan yang mempengaruhi keamanan negara, keselamatan dalam hidup, atau aset rakyat dan negara," bunyi dekrit tersebut dilansir dari Nikkei Asia, Kamis (15/10).

Lebih lanjut pemerintah menyatakan apa yang telah dilakukan demonstran saat ini bukanlah aksi damai.
Keadaan seperti itu kata pemerintah juga dapat memperburuk situasi ekonomi dalam negeri yang memang sudah terpuruk karena pandemi.

"Negara Milik Rakyat"

Para pengunjuk rasa anti-pemerintahan di Thailand menempelkan plakat di lapangan dekat Istana Kerajaan, Bangkok, Minggu (20/9). Plakat yang ditempel menyatakan bahwa negara adalah milik rakyat, bukan milik Raja Thailand.

Plakat itu ditanam di dalam sebuah lubang yang telah dibuat sebelumnya, tak lama setelah matahari terbit. "Saat fajar [matahari terbit pada] 20 September, di sini lah orang-orang menyatakan bahwa negara ini adalah milik rakyat," demikian isi tulisan dalam plakat tersebut, melansir Associated Press.

"Bangsa ini bukan hanya milik satu orang, tapi milik kita semua. Oleh karena itu, saya ingin meminta roh-roh suci untuk tinggal bersama kami dan memberkati kemenangan rakyat," ujar salah satu pengunjuk rasa, Parit Chirawak.

Infografis Tuntutan di Balik Demo ThailandCNNIndonesia/Asfahan Yahsyi. Infografis Tuntutan di Balik Demo Thailand

Plakat yang ditanam sendiri merujuk pada plakat kuningan asli yang sebelumnya sempat tertanam selama beberapa dekade di Royal Plaza Bangkok, namun belum satu hari terpasang plakat itu langsung hilang.

Seorang sumber dari Universitas Naresuan, Paul Chambers, mengatakan pemusnahan plakat tersebut mencerminkan fakta bahwa para bangsawan marah oleh tuntutan reformasi monarki dan tidak akan menerima simbol apa pun yang bahkan mencerminkan sikap oposisi terhadap Istana.

(ndn/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK