Presiden Macron Tuai Kecaman, WNI Sebut Prancis Masih Aman

CNN Indonesia | Rabu, 28/10/2020 13:20 WIB
Sejumlah WNI menggambarkan situasi di Prancis usai Presiden Emmanuel Macron menyampaikan pernyataan soal Islam yang menuai kecaman. Ilustrasi Presiden Prancis, Emmanuel Macron. (AP/Olivier Hoslet)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, kini menjadi sorotan setelah pernyataannya yang dinilai menghina Islam. Tak hanya itu, dia pun dikecam karena membela penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad S.A.W., oleh majalah satire Charlie Hebdo.

Kecaman kian deras mengalir lantaran Macron juga mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mengalami krisis di seluruh dunia. Komentar-komentar yang diutarakan Macron disampaikan usai tragedi pemenggalan kepala yang menimpa seorang guru sejarah, Samuel Paty, pada Jumat (16/10) lalu di Prancis.

Paty dibunuh karena membahas karikatur Nabi Muhammad S.A.W., kepada murid-muridnya dalam kelas terkait topik kebebasan berbicara.


Insiden itu dinilai menjadi wujud benturan gagasan antara kelompok sekuler dan relijius di Prancis. Meski tidak nampak di permukaan, gesekan itu tetap terjadi.

Menurut Macron, kelompok radikal mencoba mengubah tatanan masyarakat di Prancis, dengan membenturkan seluruh kalangan masyarakat. Namun, pernyataannya juga dinilai menyulut konflik semakin tajam.

Menurut pengakuan sejumlah warga Indonesia yang bermukim di Prancis, kondisi negara itu tetap berjalan seperti biasa usai aksi pembunuhan itu. Penuturan itu disampaikan oleh seorang Warga Negara Indonesia, Angel Hutagalung, yang bermukim di Paris.

"Situasi di Paris tepatnya di mana kota saya tinggal berjalan seperti biasa saja pasca pembunuhan Samuel Paty. Orang-orang tetap pergi belanja dengan (seperti) biasa dan anak-anak sekolah dengan normal," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui pesan tertulis, Selasa (27/10).

Meski begitu, Angel mengakui, sejak dua pekan terakhir, khususnya pada akhir pekan, para guru kerap melakukan demonstrasi atas kematian Paty. Demo tersebut berlangsung di Rue Republique, di mana orang-orang biasa berkumpul untuk melakukan demo.

"Sudah dua minggu ini setiap Sabtu-Minggu selalu ada demo yang dilakukan para guru. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak takut dan jangan coba-coba memecah mereka. Demo ini dilakukan di sebuah tempat (di) Rue Republique di mana orang-orang biasa berkumpul untuk melakukan demo," terang wanita berusia 43 tahun itu.

"Mereka menyuarakan kebebasan mereka dalam berekspresi dan Prancis memang mempunyai semboyan Liberté, Egalité, Fraternité (Persatuan, ketidakterpisahan Republik; kebebasan, kesetaraan atau kematian dan persaudaraan)," tambahnya.

Menurut Angel, selama 2,5 tahun bermukim di Paris, dia melihat negara tersebut sangat memelihara persaudaraan antarumat manusia. Warga Prancis sangat menghormati perbedaan baik pendapat maupun umat beragama.

"Bahkan kalo boleh saya mengatakan di sini individunya sangat-sangat menghormati perbedaan agama. Mereka tidak akan menyakiti kamu secara verbal jika agama berbeda. Jadi saya melihat Pemerintah Perancis sebenarnya sangat menghormati dan memelihara umat muslim di sini dengan baik," imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan oleh WNI di Prancis lainnya, Astari Suhana (28). Pasca komentar-komentar yang dilontarkan Macron tentang Islam, kehidupan Muslim di Prancis tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja, sebuah masjid di Pantin harus ditutup sesuai instruksi dari pengadilan setempat.

"Kehidupan Muslim di sini berjalan seperti biasa, masjid besar di Paris juga masih buka seperti biasanya. Cuma, masjid di Pantin (Kota dekat dari Paris) yang kena tutup sesuai instruksi pengadilan," kata Astari.

Dari segi keamanan, Angel mengatakan pemerintah Prancis memang menerapkan penjagaan yang lebih ketat, tapi hanya di tempat-tempat ramai seperti pusat perbelanjaan.

"Dari segi penjagaan memang terlihat lebih ketat tapi lebih di tempat keramaian umum seperti shopping mall dan tempat-tempat umum lainnya. Juga daerah-daerah wisata Turis lebih banyak Polisi-polisi yang patroli," tuturnya.


Warga Terbelah

Menanggapi rentetan kecaman yang diterima Macron baik oleh berbagai negara maupun di media sosial, Angel mengatakan warga Prancis terbelah menyikapi hal itu.

"Ada sebagian yang mengkritik Macron dan sebagian juga mendukung Macron," kata Angel tanpa merinci lebih lanjut.

Angel berpendapat, reaksi-reaksi yang mengarah pada pengecaman Macron hanyalah menggema di media sosial, merujuk pada situasi di Prancis yang baik-baik saja.

"Jadi memang sebenarnya reaksi-reaksi ini bisa terjadi mengecam Macron hanya karena omongan dia di media sosial. Padahal kalo dilihat secara langsung di sini, semuanya baik-baik saja dan umat Muslim di sini pun mereka diperlakukan secara sangat baik," ujarnya.

Menanggapi seruan pemboikotan produk buatan Prancis, Angel menuturkan warga setempat cenderung kalem dalam menanggapi hal tersebut dan tidak sampai menimbulkan demonstrasi, mengingat warga Prancis kerap melakukan demo.

"Reaksi mereka pastinya macem-macem.. tapi sepertinya lebih ke kalem aja dalam menanggapi hal ini. So far belum ada demo soal ini ya. Karena warga Prancis suka demo," tandasnya.

Berbeda dengan Angel, Astari menuturkan bahwa ada beberapa warga atau partai politik oposisi setempat yang menilai tindakan Macron sangat kurang tegas terkait isu kartun Nabi.

"Ada beberapa warga atau politik partai oposisi yang menurut mereka tindakan dari Macron sangat kurang tegas terkait masalah isu kartun karena dengan tanda bahwa Prancis adalah negara bebas bersuara," tandasnya.

(ans/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK