Abdullah Anzorov-Brahim Aouissaoui, Pembawa Teror di Prancis

CNN Indonesia | Jumat, 30/10/2020 16:49 WIB
Abdullah Anzorov dan Brahim Aouissaoui menjadi sorotan setelah melancarkan dua serangan terpisah di Prancis dalam dua pekan belakangan. Ilustrasi. (AP/Cecilia Fabiano)
Jakarta, CNN Indonesia --

Abdullah Anzorov dan Brahim Aouissaoui menjadi sorotan setelah melancarkan dua serangan terpisah di Prancis dalam dua pekan belakangan.

Nama Anzorov lebih dulu menjadi sorotan ketika pada Jumat (16/10) diduga memenggal seorang guru Prancis, Samuel Patu, di sekitar kawasan sekolahnya.

Ia melancarkan serangan itu pada Jumat lalu, ketika Paty dalam perjalanan pulang dari SMP tempat dia mengajar di Conflans-Sainte-Honorine, 40 kilometer di barat laut Paris. Anzorov ditembak mati oleh polisi tak lama setelah serangan itu.


Abdullah Anzorov merupakan remaja berusia 18 tahun yang juga terpapar paham ekstremis. Ia bersama keluarganya datang ke Prancis dari wilayah Chechnya di Rusia lebih dari satu dekade lalu.

Dia mendapat status sebagai pengungsi di Prancis dan menerima izin tinggal selama sepuluh tahun di awal tahun ini.

Ia sempat terlibat beberapa masalah karena terkait perusakan properti umum dan kekerasan saat masih di bawah umur.
 
Para tetangganya di Kota Evreux, Normandia, menggambarkannya sebagai orang yang "bijaksana dan tenggelam dalam agama selama tiga tahun terakhir."

Anzorov menarik perhatian saat merespons sikap Macron yang tak melarang majalah satire, Charlie Hebdo, menerbitkan kartun Nabi Muhammad.

Melalui Twitter, ia mengunggah foto yang menggambarkan Macron sebagai "pemimpin kaum kafir." Anzorov juga menulis bahwa ia ingin membalas dendam pada mereka "yang berani meremehkan (Nabi) Muhammad."

Anzorov pun melancarkan aksinya. Selain Anzoro, aparat juga menangkap tujuh orang lainnya yang diduga membantu kelancaran aksi teror tersebut, seperti mengidentifikasi korban dengan iming-iming imbalan. Empat anggota keluarga Anzorov juga ditahan.

Penyerangan di Gereja Nice

Sekitar dua pekan setelah itu, serangan kembali terjadi di sekitar Gereja Notre Dame Basilica, Nice, Prancis, pada Kamis (29/10) yang menewaskan tiga orang tewas.

Jaksa anti-terorisme Prancis, Jean-Francois Ricard, mengatakan bahwa pelaku merupakan laki-laki Tunisia bernama Brahim Aouissaoui.

Pria kelahiran 1999 ini baru tiba di Prancis pada awal Oktober lalu. Ia awalnya datang ke Eropa dengan kapal migran melalui Pulau Lampedusa, Italia, pada akhir September lalu.

Ketika tiba di Pulau Lampedusa, pria berusia 21 tahun ini sempat dikarantina oleh otoritas setempat, sesuai protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.

Usai dikarantina,BrahimAouissaoui diperintahkan untuk keluar dari wilayah Italia. Dia lalu tiba di Prancis pada awal Oktober hingga kemudian penyerangan terjadi.

A French police officers stands near Notre Dame church in Nice, southern France, Thursday, Oct. 29, 2020. French President Emmanuel Macron has announced that he will more than double number of soldiers deployed to protect against attacks to 7,000 after three people were killed at a church Thursday. (Eric Gaillard/Pool via AP)Beberapa saat setelah serangan di Nice. (AP/Eric Gaillard)

Dugaan penyerangan terjadi sekitar pukul 8.29 waktu Prancis. Pelaku menyerang orang-orang yang sedang berdoa di dalam Basilika Notre-Dame, di jantung kota Mediterania dalam kurun sekitar 30 menit.

Pelaku menggunakan pisau berukuran 30 cm untuk menyayat tenggorokan perempuan berusia 60 tahun dan membuatnya meninggal di dalam gereja.

Seorang pria berusia 55 tahun yang merupakan pegawai gereja turut menjadi korban. Jenazahnya ditemukan di dalam gereja dengan kondisi mengenaskan.

Sementara itu, seorang perempuan berusia 44 tahun sempat mencoba mencari bantuan dengan melarikan diri dari gereja ke restoran terdekat. Namun, ia tak dapat tertolong dan meninggal karena beberapa luka pisau.

Kepolisian langsung menangkap pelaku. Ketika ditangkap, pelaku menyerukan "Allahu Akbar" sebelum dilarikan ke rumah sakit.

(chri/has/asa)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK