Laporan Intelejen, Rusia Berusaha 'Rusak' Pilpres AS

CNN Indonesia | Rabu, 17/03/2021 04:20 WIB
Laporan intelejen AS menduga Rusia berusaha merusak pemilihan presiden AS yang digelar akhir 2020 kemarin. Intelejen AS menduga Rusia berusaha untuk mengintervensi pilpres 2020. (AP/Patrick Semansky).
Jakarta, CNN Indonesia --

Intelijen Amerika Serikat (AS) menduga Rusia berusaha ikut campur dalam pemilu presiden 2020. Berdasar laporan baru yang dirilis oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional AS pada Selasa (16/3), campur tangan dilakukan Rusia untuk mempengaruhi pemilu 2020.

Upaya itu ditampilkan secara menonjol dalam laporan tersebut. Campur tangan diungkap secara rinci dengan melakukan  proxy  untuk mendorong klaim yang tidak berdasar tentang Biden ke arus utama pemilih Amerika.

Campur tangan dilakukan Rusia dengan melakukan operasi untuk merendahkan pencalonan Presiden Biden dan Partai Demokrat, mendukung mantan Presiden Trump, merusak kepercayaan publik dalam proses pemilu, dan memperburuk perpecahan sosiopolitik di AS.


Selain Rusia, laporan juga mengungkap ada beberapa musuh asing yang berusaha ikut mengintervensi pemilu AS.

"Namun, tidak ada indikasi bahwa aktor asing itu berusaha mengubah aspek teknis apa pun dari proses pemungutan suara pada pemilu AS 2020, termasuk pendaftaran pemilih, pemberian suara, pemungutan suara, tabulasi, atau hasil pelaporan, " kata laporan itu seperti

Selain Rusia, laporan juga secara spesifik mengungkap peran Iran dalam melemahkan posisi Donald Trump untuk bisa terpilih lagi menjadi presiden AS. 

Laporan juga menyebut China. Tetapi, berkaitan dengan Negeri Tirai Bambu, campur tangan dilakukan dalam konteks yang sangat berbeda dari Rusia dan Iran.

"Memang, kami menilai China tidak melakukan campur tangan banyak demi mempengaruhi atau mengubah hasil pemilihan Presiden AS," kata laporan itu.

Temuan atas campur tangan China itu melemahkan tuduhan pemerintahan Trump yang sebelumnya menyebut Beijing ikut campur dalam pemilihan untuk membantu Biden menang

Sementara itu dalam sebuah pernyataan, Direktur Intelijen Nasional AS Biden Avril Haines menyebut pengaruh jahat asing merupakan tantangan abadi yang dihadapi negara negaranya.

"Upaya musuh AS ini berusaha untuk memperburuk perpecahan dan merusak kepercayaan pada lembaga demokrasi kita,"katanya.

(cnn.com/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK