Utusan Myanmar untuk PBB Desak Embargo Senjata Militer

tim, CNN Indonesia | Minggu, 11/04/2021 08:27 WIB
Utusan Myanmar untuk PBB yang telah memberontak melawan aksi junta militer menyerukan perlawanan dan tindakan segera, termasuk embargo senjata militer. Utusan Myanmar untuk PBB yang telah memberontak melawan aksi junta militer menyerukan perlawanan dan tindakan segera, termasuk embargo senjata militer. (Reuters/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia --

Utusan Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang telah memberontak melawan aksi junta militer menyerukan perlawanan dan semangat untuk bertindak.

Ia juga meminta zona larangan terbang hingga embargo senjata untuk menekan angka kematian yang disebabkan militer.

"Tindakan kolektif dan kuat Anda dibutuhkan segera," kata Duta Besar Kyaw Moe Tun pada pertemuan Dewan Keamanan, seperti dikutip AFP pada Sabtu (10/4) kemarin.


"Waktu adalah yang terpenting bagi kami. Tolong, tolong ambil tindakan," tambahnya.

Selain itu, Moe Tun juga menyuarakan penyesalan atas kurangnya tindakan yang memadai dan kuat oleh komunitas internasional, terutama Dewan Keamanan PBB.

Menurut dia kini kondisi makin tak kondusif, bahkan junta sengaja menargetkan warga sipil dan dia menyuarakan kesedihan atas kematian anak-anak.

Ia lantas berharap komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, tidak membiarkan kekejaman terus terjadi di Myanmar.

Di samping itu, Moe Tun juga menyerukan embargo senjata internasional hingga pembekuan rekening yang terkait dengan anggota militer dan keluarga mereka.

Kata dia, semua investasi asing langsung juga harus ditangguhkan sampai pemulihan pemerintahan yang dipilih secara demokratis.

Junta militer melakukan aksi kudeta karena menganggap pemilu yang dimenangkan oleh Aung San Suu Kyi dan partainya, NLD, curang.

Mereka menuding setidaknya ada jutaan pemilih palsu yang terdaftar dalam pemilu lalu. Kudeta kemudian memicu gelombang protes besar-besaran.

Berdasarkan catatan Lembaga Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) pada Kamis (8/4) jumlah korban tewas mencapai 614 orang sementara yang ditahan sebanyak 2.857 orang.

(din/agn)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK