Aparat Myanmar Tabrak dan Tangkap Pemimpin Demo saat Beraksi

CNN Indonesia | Kamis, 15/04/2021 17:34 WIB
Aparat menangkap salah satu pemimpin demonstrasi ternama Myanmar, Wai Moe Naing, dengan menabrak motor sang aktivis saat sedang berunjuk rasa, Kamis (15/4). Ilustrasi. (Reuters/Soe Zeya Tun)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aparat menangkap salah satu tokoh pemimpin demonstrasi ternama Myanmar, Wai Moe Naing, dengan cara menabrak motor sang aktivis saat sedang berunjuk rasa pada Kamis (15/4).

"Saudara kami, Wai Moe Naing, ditahan. Motornya ditabrak dengan mobil pribadi polisi [yang menangkapnya]," ujar salah satu anggota kelompok penyelenggara demonstrasi, Win Zaw Khiang, seperti dikutip Reuters.

Sebelum penangkapan ini, jurnalis Reuters sempat berkomunikasi dengan Wai. Aktivis berusia 25 tahun itu mengaku sedang bersiap memimpin demonstrasi di Kota Monywa, sekitar 700 kilometer dari Yangon.


Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan satu mobil menabrak sekelompok pengendara motor. Namun, Reuters tak bisa mengonfirmasi keabsahan video itu.

Nama Wai mulai tenar di Myanmar karena kerap menyerukan demonstrasi sejak militer mengudeta pemerintahan sipil pada 1 Februari lalu.

Melihat begitu kuat pengaruh Wai, sejumlah pemimpin demonstrasi lainnya khawatir akan keamanan pemuda itu di tahanan aparat.

"Kami harus melanjutkan perjuangan dengan menambah kekuatan untuk Ko Wai Moe Naing; demi kebenaran, demi masa kini, dan demi masa depan negara," ucap seorang pemimpin demonstrasi, Tayzar San.

[Gambas:Video CNN]

Ini bukan insiden pertama pada Kamis. Sebelumnya, aparat keamanan juga dilaporkan menembaki pekerja medis yang sedang menggelar aksi di Kota Mandalay.

Reuters melaporkan bahwa para pekerja medis itu baru saja berkumpul pada pagi hari, tapi aparat keamanan langsung membubarkan mereka dengan tembakan. Tak hanya itu, mereka juga menahan sejumlah demonstran.

Myanmar masih terus bergejolak sejak militer mengudeta pemerintahan sipil pada 1 Februari lalu.Warga pun menggelar berbagai aksi demonstrasi yang kerap berujung ricuh.

Lembaga pemantau melaporkan bahwa sejauh ini, setidaknya 715 orang tewas akibat bentrokan pengunjuk rasa dan aparat sejak kudeta pecah.

(has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK