PM Thailand Tak Akan Hadiri KTT di Jakarta Bahas Myanmar

CNN Indonesia | Selasa, 20/04/2021 16:14 WIB
PM Thailand Prayut Chan o-Cha memutuskan tidak akan menghadiri KTT ASEAN di Jakarta yang membahas krisis di Myanmar. PM Thailand Prayut Chan-o-cha. (Dok. Government of Thailand)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Thailand Prayut Chan o-Cha memutuskan tidak akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Jakarta yang membahas krisis di Myanmar pasca kudeta militer.

Menurut sumber pemerintah, Prayut akan mengirim Menteri Luar Negeri, Don Pramudwinai sebagai perwakilan Thailand, seperti dilaporkan Bangkok Post, Senin (19/4).

Namun, tak dijelaskan lebih lanjut alasan Prayut hanya mengirim menteri luar negerinya untuk bergabung dengan para pemimpin negara Asia Tenggara lainnya.


KTT ASEAN akan digelar di Jakarta, Indonesia pada Sabtu, 24 April mendatang. Para pemimpin itu bersama-sama mencari solusi atas krisis politik yang melanda salah satu negara anggotanya, Myanmar.

Padahal sebelumnya, Menteri Luar Negeri Thailand menyebut pemimpin kudeta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing akan hadir dalam pertemuan itu.

Namun, sampai sekarang, juru bicara junta militer Myanmar belum menanggapi soal kehadiran Aung Hlaing dalam pertemuan di Jakarta nanti.

Jika benar adanya, maka hadirnya Aung Hlaing di Jakarta, menjadi kunjungan luar negeri pertamanya, sejak ia melakukan kudeta di Myanmar.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah mengatakan pihaknya belum mengetahui mengenai rencana kehadiran pemimpin kudeta militer Myanmar itu.

"Saya belum tahu. Kami masih menunggu konfirmasi dari Brunei," ujarnya kepada CNNINdonesia.com.

Lebih lanjut Faizasyah mengatakan, otoritas yang mengatur rincian KTT 24 April nanti Brunei Darussalam, selaku ketua ASEAN.

Menurut dia, Sultan Brunei telah mengirim surat undangan kepada seluruh pemimpin ASEAN untuk menghadiri KTT dan tengah menunggu konfirmasi.

Kementerian Luar Negeri Brunei pun menolak berkomentar mengenai pengaturan KTT.

Sementara pemerintah bayangan di Myanmar, mendesak para pemimpin ASEAN memberi kesempatan kepada mereka untuk dapat mengikuti pertemuan itu.

Lembaga Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mencatat sebanyak 738 orang tewas sejak kudeta berlangsung, dan 3.261 ditangkap.

(isa/dea)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK