Militer Myanmar Lepas Tembakan ke Demonstran, 6 Aktivis Tewas

CNN Indonesia | Senin, 03/05/2021 02:22 WIB
Demonstrasi menolak junta militer dan aksi aparat yang meredamnya di Myanmar kembali bersimbah darah korban jiwa pada Minggu (2/5). Ilustrasi. (AFP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Demonstrasi sipil menolak junta militer dan aksi aparat yang meredamnya di Myanmar kembali bersimbah darah korban jiwa pada Minggu (2/5).

Kantor berita Reuters melansir korban jiwa karena tembakan diduga dari moncong senjata aparat itu sejauh ini menewaskan 6 orang di seantero Myanmar pada Minggu ini.

Salah satunya tiga orang yang tewas tertembak di kota Wetlet. Dan, ada dua orang terbunuh di kota yang berbeda di negara bagian Shan.


"Dia ditembak di kepala dan tewas seketika," ujar salah satu demonstran yang menyaksikan kematian temannya di tengah aksi di kota Hsipaw, Negara Bagian Shan, Minggu seperti dikutip dari AFP.

Dia mengatakan bersama sejumlah rekan segera membawa jasad temannya tersebut agar tidak dibawa aparat.

Kemudian di negara bagian Kachin, aparat pun mencoba membubarkan para demonstran dengan tembakan, bahkan granat ke arah kerumunan pengunjuk rasa.

Seorang pria berusia 33 tewas di tengah aksi di wilayah tersebut.

Sejumlah demonstran mengatakan banyak pula para aktivis yang terluka karena serangan aparat. Namun, para demonstran yang terluka itu tak dibawa ke rumah sakit maupun tempat pengobatan resmi.

"Mereka dirawat di tempat tersembunyi. Mereka tak bisa dibawa ke rumah sakit untuk pengobatan atau mereka akan ditahan," ujar salah satu demonstran di Kachin.

Sejauh ini, kelompok aktivis Assistance Association for Political Prisoners (AAPP) menyatakan setidaknya ada 759 demonstran dan warga sipil lain yang terbunuh di seantero Myanmar.

Sementara itu dari aparat Myanmar, angka korban tewas itu jauh lebih rendah yakni 258 demonstran, dan ada 7 tentara dan 17 polisi yang menjadi korban.

Belum ada pernyataan resmi dari junta militer yang menguasai sementara pemerintahan Myanmar pascakudeta terhadap Aung San Suu-kyi pada 1 Februari lalu mengenai para korban jiwa tersebut.

Sebagai informasi, unjuk rasa hanyalah salah satu masalah yang diakibatkan penggulingan pemerintah terpilih yang dipimpin peraih Nobel, Aung San Suu Kyi.

Militer Myanmar sendiri mengklaim tindakan mereka dapat dibenarkan, dengan tudingan bahwa Suu-kyi telah melakukan kecurangan dalam pemilu November tahun lalu.

(Reuters, AFP/kid)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK