China Minta WHO Hapus Uji Coba ke Manusia untuk Vaksin Covid

CNN Indonesia | Senin, 07/06/2021 20:02 WIB
China mendesak WHO menghapus uji klinis fase tiga vaksin Covid-19 pada manusia sebagai syarat untuk penggunaan darurat. Ilustrasi vaksin corona. (iStockphoto/FilippoBacci)
Jakarta, CNN Indonesia --

China mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menghapus uji klinis fase tiga vaksin Covid-19 pada manusia sebagai syarat untuk penggunaan darurat.

Sebagai gantinya, antibodi penetral menjadi alternatif dalam pengujian tahap akhir.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Menteri Komisi Kesehatan Nasional China, Zeng Yixin, pada Minggu (6/6) malam.


"Pertimbangan harus dilakukan untuk mengecualikan fase 3 dan menggunakan antibodi penetral sebagai indikator alternatif dalam uji coba tahap akhir," kata Yixin mengutip South China Morning Post, yang dilansir dari media pemerintah, Xinhua.

"Untuk vaksin dengan hasil baik dari uji coba hewan, uji coba fase 1 dan 2, dan proses produksi yang sesuai standar manufaktur, pertimbangan harus dilakukan untuk mengecualikan uji klinis fase 3 dan menggunakan antibodi penetral sebagai indikator alternatif, dan itu dapat secara signifikan meningkatkan pasokan vaksin Covid-19."

Yixin juga menganjurkan agar WHO membuat peraturan yang sesuai untuk daftar penggunaan darurat vaksin Covid-19, untuk mencegah dan mengendalikan epidemi global.

Sebagai informasi, dahulu tingkat antibodi dalam darah digunakan untuk menunjukkan efektivitas vaksin.

Misalnya, lisensi tahunan vaksin flu berat musiman yang berdasarkan seberapa baik ia menghasilkan ambang batas tingkat antibodi.

Hingga kini, para peneliti di seluruh dunia masih mempelajari "korelasi perlindungan" imunitas yang lebih baik dan dapat memberikan perlindungan terhadap Covid-19.

Bulan lalu, WHO juga sempat mengadakan pertemuan untuk membahas peralihan dari uji coba fase 3 ke level imunitas.

Para ahli menyampaikan data pengganti itu dapat digunakan untuk menjembatani vaksin bagi kelompok tambahan seperti orang tua atau remaja. Namun perusahaan farmasi harus mengevaluasi tingkat efektivitas vaksin baru karena data dapat bervariasi.

Pada tahap awal pandemi, China mengembangkan vaksin menggunakan teknologi yang berbeda, termasuk platform mRNA yang lebih canggih.

Desakan itu muncul tak lama setelah WHO memasukkan dua vaksin buatan China ke dalam daftar penggunaan darurat.

Pada 1 Juni lalu, Sinovac menjadi vaksin kedua yang disahkan organisasi kesehatan itu.

Langkah itu dinilai sebagai bentuk kepastian bahwa vaksin tersebut memenuhi standar internasional untuk keamanan dan efikasi.

Padahal jauh sebelum WHO mengizinkan penggunaan vaksin Sinovac, ada 22 negara di seluruh dunia yang lebih dulu menggunakannya. Selain China, ada Chili, Brasil, Indonesia, Meksiko, Thailand, dan Turki.

Mei lalu, WHO juga melegalkan vaksin Sinopharm untuk penggunaan darurat.

Kedua vaksin asal China itu disetujui di negara pimpinan Xi Jin Ping untuk penggunaan darurat dan hanya menggunakan data hasil uji coba fase 1 atau 2.

Lima vaksin lain milik China termasuk dari CanSino dan Anhui Zhifei Longcom Biopharmaceuticals, sedang mengajukan daftar penggunaan darurat WHO.

Dari 21 vaksin China, delapan di antaranya sedang melakukan uji coba pada manusia. Satu vaksin lagi dalam proses perizinan peraturan luar negeri untuk uji coba fase 3.

Karena China dianggap telah mengatasi Covid-19, uji coba fase 3 dilakukan di luar negeri.

(isa/dea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK