3 Alasan RI Dinilai Susah 'Move On' dari Batu Bara Seperti China
CNN Indonesia
Rabu, 17 Nov 2021 07:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Total hampir 200 negara pada Sabtu (13/11) menandatangani kesepakatan menghentikan penggunaan batu bara bertahap di COP26. (Foto: REUTERS/ALY SONG)
Jakarta, CNN Indonesia --
KTT soal perubahan iklim (COP26) di Glasgow, Skotlandia, dinilai sejumlah pihak mengecewakan karena berakhir tanpa terobosan berarti untuk menghentikan pemanasan global yang kian memburuk.
Salah satu yang menjadi kekecewaan adalah pembahasan untuk menyetop penggunaan batu bara. COP26 gagal menghentikan secara penuh batubara yang disebut sebagai biang kerok karbon penyebab pemanasan global.
Total hampir 200 negara pada Sabtu (13/11) menandatangani kesepakatan untuk mencoba menghentikan penggunaan batu bara. Namun, para ilmuwan dan pengamat lingkungan menilai kesepakatan itu dianggap belum cukup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
India dan China melemahkan keputusan akhir di dalam draf kesepakatan. Dua negara tersebut bersikeras menghapus kalimat "menghentikan" penggunaan batu bara dalam deklarasi akhir COP26 dan menjadi "mengurangi" secara bertahap.
China dan India memang yang bersikeras tak ingin langsung menghapus penggunaan batubara dalam industri mereka. Pasalnya, penggunaan energi itu dianggap masih amat diperlukan bagi industri mereka meski berbahaya bagi masalah iklim.
Indonesia, salah satu dari 5 negara pemasok batu bara terbesar di dunia, turut mendukung langkah China dan India ini.
"Pada akhirnya negara-negara pihak sepakat untuk menghentikan secara bertahap daripada menghapus batu bara," kata Direktur Jenderal PPI KLHK selaku Ketua Delegasi Indonesia pada COP 26, Laksmi Dhewanthi, dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/11).
Sejumlah pengamat lingkungan serta aktivis pun menjabarkan sejumlah penyebab Indonesia yang sulit beralih dari energi batu bara
1. Pejabat Publik Rangkap Pebisnis Tambang Batu Bara
Aktivis lingkungan dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Merah Johansyah, mengatakan ketergantungan RI akan batu bara mengakar hingga ke ranah politik Indonesia. Sebab, banyak pejabat di Indonesia juga memiliki bisnis tambang batu bara.
"Pertama karena pemerintah Indonesia memang tidak sungguh-sungguh ingin meninggalkan energi fosil dan batu bara. Karena pemerintah Indonesia sendiri disandera oleh banyak kepentingan. Kepentingan pertama ada kepentingan politik ekonomi. Pelaku bisnis batu bara itu juga duduk sebagai para pelaku politik di Indonesia," kata Johansyah saat diwawancara CNNIndonesia.com, Selasa (16/11).
"Mereka memang tidak sungguh-sungguh ingin meninggalkan kecanduan terhadap energi fosil dan batu bara yang selama ini menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan hidup di Indonesia, dan juga penyumbang utama naiknya gas rumah kaca," tambahnya.
Selain itu, Johansyah juga menyampaikan bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen batu bara bagi China. Ia menilai Indonesia ibarat pelayan bagi pemenuhan energi industri China.
"Indonesia ini pelayan sebenarnya, dari industri global. Ya sebenarnya Indonesia itu menyediakan dirinya untuk merusak sendiri dirinya untuk kepentingan negara lain atau kepentingan industri," ucap Johansyah lagi.
Alasan lainnya yang menyebabkan Indonesia susah beralih ke energi hijau dapat dibaca di halaman berikutnya >>>
2. Batu Bara Hasilkan Cuan
Sementara itu, Koordinator Aksi Ekonomi dan Emansipasi Rakyat (AEER) Pius Ginting, mengatakan salah satu alasan pemerintah susah beralih energi dari batu bara kemungkinan karena sumber daya alam itu melimpah di Indonesia.
"Alasannya tentu karena Indonesia punya resources batu bara, ada di Kalimantan dan Sumatra Selatan, dan Indonesia kan sebagai pengekspor batu bara terbesar di dunia, karena ada batu bara itu lah. Kalau gak ada batu bara, tentunya, seperti misalnya Filipina, itu lebih mudah untuk transisi keluar dari batu bara," kata Pius.
Pendapat ini juga sempat disinggung oleh Manajer Program Transformasi Energi, Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo.
"Pandangan lain yang pernah saya dengar adalah bahwa Indonesia kaya akan batu bara, dan batubara sebagai sumber energi murah sehingga layaknya dipakai untuk menjaga ketahanan energi, dan affordability energi," tutur Deon.
Walaupun demikian, Deon tidak setuju atas pernyataan itu. Deon menilai Indonesia juga kaya akan sumber energi terbarukan, tak melulu batu bara.
"Bahkan laporan dari Carbon Tracker Initiative menunjukkan bahwa potensi energi terbarukan Indonesia (khususnya surya dan angin) bisa memenuhi 100 kali lipat permintaan energi Indonesia saat ini," kata Deon lagi.
Deon juga berpendapat bahwa energi terbarukan akan jauh lebih murah di masa depan.
Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Surya Darma. menganggap kesepakatan COP26 bukan berarti Indonesia ingin mempertahankan energi batu bara.
Menurutnya, salah satu penyebab Indonesia sulit beralih ke energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan karena berbagai tantangan yang ada mulai dari faktor finansial masyarakat, teknologi, serta ketersediaan bahan dasar EBT itu sendiri.
"Indonesia, sejak Perjanjian Paris memang berniat menurunkan emisi karbon 29 persen pada 2030 dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan bantuan dan dukungan pendanaan dari internasional. Upaya ini dituangkan dalam target NDC Indonesia pada 2030. Akan tetapi, kelihatannya upaya ini tidak mudah dilakukan karena banyak faktor," katanya saat diwawancara CNNIndonesia.com, Selasa (16/11).
Surya menilai, kemampuan ekonomi masyarakat yang mayoritas masih rendah berhubungan dengan penggunaan energi batu bara yang dianggap lebih murah dibandingkan energi terbarukan. Akibatnya, penggunaan batu bara masih menjadi andalan dalam memasok energi listrik secara nasional.
Jakarta, CNN Indonesia --
KTT soal perubahan iklim (COP26) di Glasgow, Skotlandia, dinilai sejumlah pihak mengecewakan karena berakhir tanpa terobosan berarti untuk menghentikan pemanasan global yang kian memburuk.
Salah satu yang menjadi kekecewaan adalah pembahasan untuk menyetop penggunaan batu bara. COP26 gagal menghentikan secara penuh batubara yang disebut sebagai biang kerok karbon penyebab pemanasan global.
Total hampir 200 negara pada Sabtu (13/11) menandatangani kesepakatan untuk mencoba menghentikan penggunaan batu bara. Namun, para ilmuwan dan pengamat lingkungan menilai kesepakatan itu dianggap belum cukup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
India dan China melemahkan keputusan akhir di dalam draf kesepakatan. Dua negara tersebut bersikeras menghapus kalimat "menghentikan" penggunaan batu bara dalam deklarasi akhir COP26 dan menjadi "mengurangi" secara bertahap.
China dan India memang yang bersikeras tak ingin langsung menghapus penggunaan batubara dalam industri mereka. Pasalnya, penggunaan energi itu dianggap masih amat diperlukan bagi industri mereka meski berbahaya bagi masalah iklim.
Indonesia, salah satu dari 5 negara pemasok batu bara terbesar di dunia, turut mendukung langkah China dan India ini.
"Pada akhirnya negara-negara pihak sepakat untuk menghentikan secara bertahap daripada menghapus batu bara," kata Direktur Jenderal PPI KLHK selaku Ketua Delegasi Indonesia pada COP 26, Laksmi Dhewanthi, dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/11).
Sejumlah pengamat lingkungan serta aktivis pun menjabarkan sejumlah penyebab Indonesia yang sulit beralih dari energi batu bara
1. Pejabat Publik Rangkap Pebisnis Tambang Batu Bara
Aktivis lingkungan dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Merah Johansyah, mengatakan ketergantungan RI akan batu bara mengakar hingga ke ranah politik Indonesia. Sebab, banyak pejabat di Indonesia juga memiliki bisnis tambang batu bara.
"Pertama karena pemerintah Indonesia memang tidak sungguh-sungguh ingin meninggalkan energi fosil dan batu bara. Karena pemerintah Indonesia sendiri disandera oleh banyak kepentingan. Kepentingan pertama ada kepentingan politik ekonomi. Pelaku bisnis batu bara itu juga duduk sebagai para pelaku politik di Indonesia," kata Johansyah saat diwawancara CNNIndonesia.com, Selasa (16/11).
"Mereka memang tidak sungguh-sungguh ingin meninggalkan kecanduan terhadap energi fosil dan batu bara yang selama ini menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan hidup di Indonesia, dan juga penyumbang utama naiknya gas rumah kaca," tambahnya.
Selain itu, Johansyah juga menyampaikan bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen batu bara bagi China. Ia menilai Indonesia ibarat pelayan bagi pemenuhan energi industri China.
"Indonesia ini pelayan sebenarnya, dari industri global. Ya sebenarnya Indonesia itu menyediakan dirinya untuk merusak sendiri dirinya untuk kepentingan negara lain atau kepentingan industri," ucap Johansyah lagi.
Alasan lainnya yang menyebabkan Indonesia susah beralih ke energi hijau dapat dibaca di halaman berikutnya >>>
Pasokan Batu Bara Melimpah hingga Minim Kesiapan Masyarakat
Sejumlah aktivis dan pengamat lingkungan menganggap pidato Jokowi di COP26 hanya cuap-cuap biasa. (Foto: REUTERS/YVES HERMAN)
2. Batu Bara Hasilkan Cuan
Sementara itu, Koordinator Aksi Ekonomi dan Emansipasi Rakyat (AEER) Pius Ginting, mengatakan salah satu alasan pemerintah susah beralih energi dari batu bara kemungkinan karena sumber daya alam itu melimpah di Indonesia.
"Alasannya tentu karena Indonesia punya resources batu bara, ada di Kalimantan dan Sumatra Selatan, dan Indonesia kan sebagai pengekspor batu bara terbesar di dunia, karena ada batu bara itu lah. Kalau gak ada batu bara, tentunya, seperti misalnya Filipina, itu lebih mudah untuk transisi keluar dari batu bara," kata Pius.
Pendapat ini juga sempat disinggung oleh Manajer Program Transformasi Energi, Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo.
"Pandangan lain yang pernah saya dengar adalah bahwa Indonesia kaya akan batu bara, dan batubara sebagai sumber energi murah sehingga layaknya dipakai untuk menjaga ketahanan energi, dan affordability energi," tutur Deon.
Walaupun demikian, Deon tidak setuju atas pernyataan itu. Deon menilai Indonesia juga kaya akan sumber energi terbarukan, tak melulu batu bara.
"Bahkan laporan dari Carbon Tracker Initiative menunjukkan bahwa potensi energi terbarukan Indonesia (khususnya surya dan angin) bisa memenuhi 100 kali lipat permintaan energi Indonesia saat ini," kata Deon lagi.
Deon juga berpendapat bahwa energi terbarukan akan jauh lebih murah di masa depan.
Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Surya Darma. menganggap kesepakatan COP26 bukan berarti Indonesia ingin mempertahankan energi batu bara.
Menurutnya, salah satu penyebab Indonesia sulit beralih ke energi baru terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan karena berbagai tantangan yang ada mulai dari faktor finansial masyarakat, teknologi, serta ketersediaan bahan dasar EBT itu sendiri.
"Indonesia, sejak Perjanjian Paris memang berniat menurunkan emisi karbon 29 persen pada 2030 dengan upaya sendiri dan 41 persen dengan bantuan dan dukungan pendanaan dari internasional. Upaya ini dituangkan dalam target NDC Indonesia pada 2030. Akan tetapi, kelihatannya upaya ini tidak mudah dilakukan karena banyak faktor," katanya saat diwawancara CNNIndonesia.com, Selasa (16/11).
Surya menilai, kemampuan ekonomi masyarakat yang mayoritas masih rendah berhubungan dengan penggunaan energi batu bara yang dianggap lebih murah dibandingkan energi terbarukan. Akibatnya, penggunaan batu bara masih menjadi andalan dalam memasok energi listrik secara nasional.